Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) memanfaatkan momentum Ramadan untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan melalui agenda buka puasa bersama pada Jumat (13/3). Kegiatan tersebut diselenggarakan dengan tuan rumah Bank Syariah Indonesia.
Acara ini dihadiri Wakil Presiden RI ke-13 K.H. Ma’ruf Amin, Ketua Umum dan Ketua Harian Pengurus Pusat MES terpilih, serta sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan di bidang ekonomi dan keuangan syariah.
Ketua Umum Pengurus Pusat MES, Rosan P. Roeslani, menyampaikan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus meneguhkan komitmen dalam mendorong pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Rosan juga menyinggung dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang dinilai berdampak pada stabilitas ekonomi dunia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu ketidakpastian harga energi dan volatilitas pasar keuangan.
“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian seperti sekarang, kita membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional karena membawa nilai keadilan, keseimbangan, serta keberpihakan kepada sektor riil,” ujar Rosan.
Ia menekankan, pengembangan ekonomi syariah memerlukan kolaborasi luas dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, akademisi, ulama, hingga organisasi masyarakat.
“Ketika seluruh pemangku kepentingan dapat berjalan bersama dalam satu semangat yang sama, kita akan mampu membangun ekosistem ekonomi syariah yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Rosan yang juga Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyampaikan bahwa struktur kepengurusan baru MES masih dalam tahap finalisasi dan ditargetkan rampung dalam waktu dekat untuk kemudian diumumkan secara resmi. Ia berharap kepengurusan baru dapat membuat organisasi bergerak lebih dinamis, kolaboratif, dan berdampak bagi pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Harian PP MES, Ferry Juliantono, menilai masa depan ekonomi syariah tidak hanya bertumpu pada sektor keuangan syariah dan industri halal. Menurutnya, ekonomi syariah perlu masuk lebih dalam ke sektor riil sebagai kekuatan produksi, perdagangan, dan distribusi di tengah masyarakat.
Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koperasi, Ferry turut menyoroti potensi koperasi pondok pesantren sebagai motor penggerak ekonomi umat. Ia menilai pesantren memiliki ekosistem yang kuat, mulai dari sumber daya manusia, komunitas yang solid, hingga kebutuhan ekonomi yang nyata.
“Dari pesantren kita bisa membangun model pengembangan sektor riil ekonomi syariah, mulai dari produksi hingga jejaring usaha yang berkelanjutan,” pungkasnya.

