Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengintensifkan diplomasi multilateral untuk merespons meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia. Dalam langkah tersebut, Trump mendorong China dan negara-negara dalam blok NATO untuk mengirimkan kapal perang sebagai bagian dari operasi pengamanan jalur pelayaran itu.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan menjadi lintasan penting perdagangan energi, dengan pergerakan minyak mentah dalam jumlah besar setiap hari. Gangguan atau penutupan jalur ini dinilai berpotensi memicu dampak luas, mulai dari kenaikan harga minyak global hingga tekanan terhadap stabilitas ekonomi dunia serta keamanan operasional pelayaran internasional.
Sejumlah insiden provokasi dan penyekapan kapal dagang turut meningkatkan kekhawatiran para pelaku ekonomi global. Situasi tersebut mendorong berbagai negara untuk mengerahkan armada mereka ke kawasan, di tengah kompleksitas geopolitik yang melibatkan ketegangan Iran–Amerika Serikat, kepentingan ekonomi China, serta komitmen keamanan Eropa melalui NATO.
Upaya Trump untuk melibatkan China dipandang sebagai perhitungan strategis mengingat besarnya kepentingan Beijing terhadap kelancaran pasokan energi. China disebut sangat bergantung pada impor minyak yang melewati Selat Hormuz, sehingga partisipasinya dinilai dapat memperkuat koalisi pengamanan berbasis kepentingan ekonomi lintas blok.
Di sisi lain, dorongan kepada NATO mencerminkan upaya Washington mempertahankan koordinasi transatlantik dan mengamankan kepentingan sekutu. Kombinasi keterlibatan NATO dan China diharapkan dapat membentuk daya tangkal yang lebih kuat untuk menekan pihak-pihak yang berupaya mengganggu lalu lintas maritim, sekaligus menjaga kebebasan pelayaran.
Meski demikian, langkah ini menghadapi tantangan. Posisi China kerap tidak sejalan dengan kepentingan Barat di berbagai forum internasional, sementara NATO disebut menghadapi dinamika internal terkait tingkat komitmen masing-masing anggota terhadap operasi di luar kawasan Atlantik. Respons China dan NATO atas desakan Trump dinilai akan menjadi indikator penting bagi arah kerja sama internasional di tengah tatanan global yang semakin multipolar.
Dalam konteks tersebut, krisis Selat Hormuz tidak semata dipandang sebagai isu keamanan maritim, melainkan juga ujian koordinasi lintas kekuatan besar untuk menangani risiko geopolitik yang berdampak pada stabilitas ekonomi global.

