Pada masa Perang Pasifik, Jepang menghadapi kebutuhan mendesak untuk menambah jumlah pasukan dalam menghadapi negara-negara Barat. Untuk itu, pada 24 April 1943, Jepang mengumumkan pembentukan organisasi militer yang melibatkan pemuda Indonesia, yaitu Heiho dan PETA.
Heiho
Heiho merupakan barisan prajurit yang langsung dimasukkan ke dalam struktur militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut. Selain itu, terdapat pula Kempeitai yang berfungsi sebagai kepolisian militer. Jepang mengakui potensi para pemuda Indonesia, meskipun masih meragukan kesetiaan mereka terhadap kepentingan Jepang.
Anggota Heiho berperan sebagai pekerja kasar dalam satuan militer, sehingga tidak ada perwira yang berasal dari kalangan Heiho; seluruh perwira adalah orang Jepang. Tugas-tugas mereka meliputi pembangunan kubu pertahanan, penjagaan kamp tahanan, serta membantu tentara Jepang di medan perang. Banyak anggota Heiho yang terlibat dalam pertempuran melawan Amerika Serikat di wilayah Kalimantan, Irian, dan Birma (sekarang Myanmar).
Sejak didirikan pada 1943 hingga akhir pendudukan Jepang, jumlah anggota Heiho mencapai sekitar 42.000 orang. Rekrutmen dilakukan terhadap pemuda berusia 18-25 tahun yang sehat jasmani, berkelakuan baik, dan memiliki pendidikan setingkat sekolah dasar.
Di wilayah Tentara ke-16 (Jawa-Madura), dibentuk seksi khusus bernama Tookubetsu Han atau Bagian Intelijen yang disingkat Beppan. Para pemuda di sini dilatih dalam kemampuan intelijen di bawah pimpinan Letnan Yanagawa. Pelatihan ini berkembang menjadi Seinen Dojo (Panti Pelatihan Pemuda) yang berpusat di Tangerang, dengan kurikulum yang mencakup semangat juang, situasi dunia, sejarah perang, spionase, senam, gulat, sumo, renang, menembak, hingga lagu-lagu perang.
Beberapa anggota Heiho bahkan mendapat pelatihan khusus untuk mengoperasikan senjata antipesawat, tank, artileri, dan mengemudi. Lulusan pertama Seinen Dojo antara lain Umar Wirahadikusumah, A. Kemal Idris, R.A. Kosasih, dan Daan Mogot. Secara keseluruhan, Heiho dianggap sebagai organisasi dengan pelatihan militer paling intensif dibandingkan organisasi lain pada masa itu, termasuk PETA.
PETA
Karena kehadiran Heiho belum cukup memenuhi kebutuhan militer Jepang, kemudian dibentuklah PETA (Pembela Tanah Air) pada 3 Oktober 1943. Pembentukan ini diinisiasi secara formal melalui surat yang diajukan oleh Gatot Mangkupradja kepada Gunseikan, kepala pemerintah militer Jepang. PETA dirancang seolah-olah sebagai inisiatif rakyat sendiri dan disambut antusias oleh para pemuda, termasuk mereka yang sebelumnya terdaftar di Seinendan.
Berbeda dengan Heiho, PETA tidak dimasukkan ke dalam struktur militer Jepang secara resmi. Organisasi ini berfungsi sebagai pasukan gerilya yang membantu Jepang menghadapi serangan mendadak dari musuh.
Dalam PETA terdapat jenjang kepangkatan yang terdiri atas daidanco (komandan batalyon), cudanco (komandan kompi), shodanco (komandan peleton), bundanco (komandan regu), dan giyuhei (prajurit sukarela). Posisi perwira umumnya diisi oleh tokoh masyarakat yang terkemuka, sedangkan posisi di bawahnya diisi oleh guru, pelajar sekolah lanjutan, hingga pelajar sekolah dasar berdasarkan jenjangnya.
Untuk menjadi perwira, calon anggota mengikuti pendidikan khusus yang berlangsung di Bogor dengan nama Korps Latihan Pemimpin Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa (Jawa Boei Giyugun Kanbu Kyoikutai). Setelah pelatihan, para perwira ditempatkan di berbagai daerah di Jawa, Madura, dan Bali.
Hingga akhir masa pendudukan Jepang, diperkirakan terdapat sekitar 37.000 anggota PETA di Jawa dan 20.000 di Sumatra, di mana PETA lebih dikenal dengan sebutan Giyugun atau prajurit sukarela. Salah satu tokoh penting yang pernah menjadi anggota PETA adalah Jenderal Sudirman, yang kemudian menjadi panglima besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.