Tingkat ketidakpercayaan masyarakat terhadap vaksin menunjukkan adanya kemunduran dalam upaya memerangi penyakit menular yang sebenarnya bisa dicegah. Hal ini menjadi perhatian serius para ahli kesehatan global.
Analisis yang dilakukan oleh Wellcome Trust melibatkan survei terhadap lebih dari 140.000 orang di 142 negara. Studi ini dilakukan dalam konteks peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut keraguan terhadap vaksin sebagai salah satu dari sepuluh ancaman terbesar bagi kesehatan global.
Temuan Survei Global
Survei Wellcome Global Monitor meneliti berbagai aspek, termasuk kepercayaan terhadap ilmu pengetahuan, ilmuwan, informasi kesehatan, serta sikap terhadap vaksinasi. Hasilnya menunjukkan bahwa masih banyak orang yang meragukan keamanan vaksin.
- 84% responden menyatakan sangat atau agak setuju bahwa vaksin aman
- 5% sangat atau agak tidak setuju
- 12% memilih netral atau tidak tahu
Mengapa hal ini penting?
Vaksinasi telah terbukti secara ilmiah sebagai pertahanan terbaik melawan infeksi mematikan dan penyakit yang dapat menyebabkan cacat, seperti campak. Vaksin telah melindungi miliaran orang di seluruh dunia dan berhasil mengeliminasi penyakit cacar serta hampir membasmi polio. Namun, kemunculan kembali penyakit seperti campak menunjukkan adanya tantangan baru akibat keraguan vaksin yang dipicu oleh ketakutan dan diskriminasi.
Kemunculan Kembali Penyakit yang Dapat Dicegah
Kasus campak meningkat di hampir semua wilayah dunia, dengan peningkatan sebesar 30% pada tahun 2017 dibandingkan 2016. Keputusan menolak vaksin tidak hanya membahayakan individu yang tidak divaksin, tetapi juga masyarakat luas karena mengancam terciptanya kekebalan kelompok yang penting dalam mencegah penyebaran penyakit.
Imran Khan dari Wellcome Trust menyatakan kekhawatirannya terkait penurunan tingkat imunisasi yang menyebabkan penyakit tersebut muncul kembali.
Perbedaan Tingkat Kepercayaan di Berbagai Negara
Temuan survei menunjukkan bahwa skeptisisme terhadap vaksin lebih tinggi di negara-negara dengan pendapatan lebih tinggi. Sebagai contoh, di Prancis, sekitar satu dari tiga orang tidak percaya bahwa vaksin aman, menjadikannya tingkat keraguan tertinggi di dunia. Selain itu, 19% penduduk Prancis meragukan efektivitas vaksin, dan 10% tidak menganggap vaksin penting bagi anak-anak.
Sebagai respons, pemerintah Prancis kini mewajibkan delapan jenis vaksinasi bagi anak-anak. Di Italia, peraturan baru memungkinkan sekolah menolak anak yang tidak divaksinasi dan memberikan sanksi kepada orang tua setelah terjadi penurunan imunisasi. Inggris masih mempertimbangkan opsi vaksinasi wajib jika diperlukan, sedangkan Amerika Serikat menghadapi gelombang kasus campak terbesar dalam beberapa dekade dengan lebih dari 980 kasus terkonfirmasi di 26 negara bagian pada tahun 2019.
Di Eropa Barat dan Timur, tingkat kepercayaan terhadap keamanan vaksin berkisar antara 50-70%. Ukraina melaporkan jumlah kasus campak tertinggi di Eropa dengan lebih dari 53.000 kasus pada tahun sebelumnya, di mana hanya 50% penduduk yang percaya vaksin efektif. Negara-negara tetangga seperti Belarus, Moldovia, dan Rusia juga menunjukkan tingkat kepercayaan yang relatif rendah.
Kepercayaan Tinggi di Negara Berpenghasilan Rendah
Berbeda dengan negara maju, masyarakat di beberapa negara berpenghasilan rendah justru menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap vaksin. Di Asia Selatan, 95% responden menyatakan vaksin aman, dan di Afrika Bagian Timur angkanya mencapai 92%. Bangladesh dan Rwanda mencatat tingkat imunisasi yang tinggi meskipun menghadapi berbagai tantangan logistik. Rwanda bahkan menjadi negara berpenghasilan rendah pertama yang menyediakan vaksin HPV untuk perempuan muda sebagai upaya pencegahan kanker serviks.
Penyebab Keraguan Terhadap Vaksin
Survei menunjukkan bahwa orang yang percaya kepada ilmuwan, dokter, dan tenaga kesehatan cenderung lebih menerima vaksin. Sebaliknya, mereka yang mencari informasi kesehatan dari sumber yang kurang kredibel cenderung meragukan vaksin. Faktor lain yang memengaruhi adalah sikap cepat puas, di mana menurunnya kejadian penyakit membuat masyarakat merasa imunisasi tidak lagi mendesak.
Misinformasi juga berperan besar dalam menurunkan kepercayaan. Di Jepang, kekhawatiran terkait vaksin HPV yang dikaitkan dengan masalah saraf menyebar luas dan merusak kepercayaan terhadap imunisasi secara umum. Di Prancis, kontroversi tentang vaksin influenza dan dugaan pembelian vaksin dalam jumlah besar oleh pemerintah menimbulkan keraguan. Sementara di Inggris, muncul salah informasi mengenai vaksin MMR dan kaitannya dengan autisme.
Upaya Mengatasi Keraguan
Dr. Ann Lindstrand dari WHO menekankan pentingnya pelatihan tenaga kesehatan agar mampu memberikan informasi vaksinasi berdasarkan bukti ilmiah dan menjawab kekhawatiran masyarakat dengan tepat. Ia menilai keraguan terhadap vaksin dapat menghambat kemajuan pengendalian penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan menyebut kemunculan kembali penyakit seperti campak sebagai kemunduran yang tidak dapat diterima.