BERITA TERKINI
Skenario Harga Minyak Tembus USD 150 dan Risiko Gangguan Selat Hormuz Dinilai Tekan Ekonomi Indonesia

Skenario Harga Minyak Tembus USD 150 dan Risiko Gangguan Selat Hormuz Dinilai Tekan Ekonomi Indonesia

Kenaikan harga minyak dunia hingga menyentuh USD 150 per barel dinilai bukan sekadar dinamika pasar energi global bagi Indonesia. Sebagai negara yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga tersebut berpotensi memberi tekanan pada fiskal negara, nilai tukar rupiah, inflasi, hingga biaya logistik nasional.

Berdasarkan simulasi ekonomi, apabila harga minyak naik dari asumsi APBN sekitar USD 82 menjadi USD 150 per barel, Indonesia berpotensi menanggung tambahan beban impor energi sekitar USD 15 miliar per tahun atau setara Rp230–240 triliun. Kenaikan ini juga diperkirakan meningkatkan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi, sehingga total subsidi energi nasional dapat terdorong ke kisaran Rp500–600 triliun.

Dari sisi stabilitas harga, tekanan tersebut berpotensi mendorong inflasi ke level 6–8%, lebih tinggi dari kisaran normal 2,5–3%. Peningkatan impor energi juga dinilai dapat memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp16.500 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Risiko dapat menjadi lebih ekstrem apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat hingga memicu penutupan Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia atau hampir 20 juta barel per hari. Jika terjadi gangguan, pasar energi global berpotensi mengalami guncangan pasokan besar.

Dalam berbagai simulasi pasar energi, gangguan besar di Selat Hormuz disebut dapat mendorong harga minyak naik ke kisaran USD 150–200 per barel. Bahkan dalam skenario krisis ekstrem, harga dapat menembus USD 200–250 per barel. Situasi semacam itu berpotensi memicu krisis energi global, meningkatkan inflasi dunia, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Di dalam negeri, industri logistik disebut menjadi sektor yang paling cepat merasakan dampaknya. Dalam struktur biaya logistik Indonesia, bahan bakar menyumbang sekitar 30–40% dari total biaya operasional. Jika harga minyak dunia melonjak hingga USD 150, harga solar industri diperkirakan dapat naik sekitar 50–60%, yang berpotensi mendorong kenaikan biaya operasional trucking hingga sekitar 30%.

Kenaikan biaya logistik tersebut dapat memicu efek berantai pada harga barang. Produk makanan, bahan bangunan, hingga barang konsumsi diperkirakan berpotensi mengalami kenaikan harga 3–7%, sehingga memperbesar tekanan inflasi domestik.

Meski demikian, beberapa sektor disebut berpeluang memperoleh keuntungan di tengah lonjakan harga energi. Industri batu bara, gas, energi, serta logistik yang terkait dengan pertambangan dan energi dinilai dapat menikmati peningkatan permintaan seiring naiknya harga energi global.

Dengan demikian, skenario harga minyak tinggi—terutama bila dipicu gangguan di Selat Hormuz—dipandang bukan hanya isu energi, melainkan tantangan strategis bagi stabilitas fiskal, daya beli masyarakat, dan ketahanan rantai pasok Indonesia. Pemerintah dan pelaku usaha dinilai perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak dini, mulai dari efisiensi energi, diversifikasi sumber energi, hingga penguatan sektor logistik agar lebih tahan terhadap gejolak energi global.