Associate Professor bidang Islam dan Hubungan Internasional sekaligus Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Dr. Rizki Damayanti, M.A., membagikan refleksi atas kunjungannya ke Iran pada November 2023 melalui program yang didanai Goharshad International Foundation. Ia menyebut perjalanan tersebut bukan sekadar agenda akademik, melainkan juga pengalaman intelektual dan spiritual yang mendorong perubahan cara pandang dalam memahami Islam, peradaban, serta posisi Iran di tengah narasi konflik global.
Rizki mengikuti Scientific-Educational Course of Hawwa yang diselenggarakan di Mashhad dan Qom. Program yang digagas mantan ibu negara Iran, Jamileh Alamolhoda Raisi, itu mengundang sekitar 13 perempuan akademisi dan peneliti dari Indonesia. Dalam catatannya, kehadiran para peserta dipahami sebagai bagian dari upaya “melihat dari dalam” sebuah masyarakat yang sering dibaca melalui perspektif eksternal, terutama dalam studi yang banyak dipengaruhi kerangka Barat.
Menurut Rizki, kunjungan ini memunculkan kesadaran bahwa pengetahuan tidak sepenuhnya netral, melainkan dipengaruhi sejarah, relasi kuasa, dan pengalaman. Ia menilai perjalanan tersebut menjadi momentum untuk meninjau ulang kerangka berpikir yang selama ini terbentuk, sekaligus membuka ruang negosiasi terhadap cara memahami Iran dan tradisi keilmuannya.
Ia menggambarkan kesan awal di Iran sebagai perjumpaan dengan jejak peradaban Persia yang kuat, yang masih tampak dalam arsitektur, tradisi intelektual, dan praktik keagamaan. Pengalaman itu, menurutnya, menegaskan bahwa studi Islam tidak dapat dilepaskan dari konteks peradaban yang membentuknya, termasuk dalam aspek keseharian seperti bahasa, seni, dan tata ruang kota.
Rizki juga menuturkan kunjungan ke berbagai perguruan tinggi di Mashhad dan Qom memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dikembangkan dalam kerangka epistemologi Islam yang khas. Dari diskusi dengan akademisi setempat, ia menangkap adanya upaya mengintegrasikan ilmu modern dengan nilai-nilai keislaman, serta cara pandang yang menempatkan ilmu bukan hanya sebagai instrumen rasionalitas, tetapi juga terkait pemaknaan spiritual dan etis.
Ia membandingkan pendekatan tersebut dengan kecenderungan kajian Islam di Barat yang kerap memposisikan Islam sebagai objek studi. Di Iran, ia menilai Islam hadir sebagai subjek yang hidup dan berkelindan dengan dinamika sosial-politik, sehingga perbedaannya bukan hanya pada metode, tetapi juga pada cara memahami realitas.
Qom, yang dikenal sebagai pusat studi keislaman, disebutnya memberi pengalaman dialog dengan dosen dan mahasiswa mengenai bagaimana tradisi keilmuan Islam dipertahankan dan dikembangkan. Rizki mencatat bahwa teks klasik tidak hanya dipelajari, tetapi juga ditafsirkan ulang dalam konteks kontemporer. Ia juga menyoroti kepercayaan diri epistemik yang ia lihat pada para akademisi Iran, yang tidak semata mengadopsi teori Barat, melainkan berupaya mengembangkan teori berbasis pengalaman dan tradisi mereka sendiri. Dari situ, ia menarik pelajaran tentang pentingnya otonomi intelektual dalam pengembangan ilmu di dunia Muslim.
Selain perguruan tinggi, Rizki menyebut kunjungan ke sekolah-sekolah perempuan sebagai salah satu pengalaman yang berkesan. Ia menilai temuan di lapangan menantang stereotip yang sering berkembang di luar Iran mengenai posisi perempuan. Dalam pengamatannya, ruang pendidikan di Iran memberikan peluang bagi perempuan untuk berkembang secara intelektual tanpa harus melepaskan identitas keislaman. Ia memaknainya sebagai refleksi bahwa emansipasi dapat tumbuh dari kerangka nilai yang berbeda dan tidak selalu mengikuti model Barat.
Dimensi spiritual juga mewarnai perjalanan tersebut, terutama saat beribadah di kompleks makam Imam Reza di Mashhad. Rizki menggambarkan tempat itu bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan antara sejarah, spiritualitas, dan ekspresi keagamaan, khususnya dalam tradisi Syiah yang ia saksikan langsung. Pengalaman tersebut, menurutnya, memperkaya pemahaman tentang keragaman praktik keagamaan dalam Islam yang kerap disederhanakan dalam narasi homogen.
Dari perspektif Hubungan Internasional, Rizki menilai kunjungan ini membantu memahami Iran bukan semata sebagai aktor politik global, melainkan sebagai entitas peradaban dengan identitas dan visi sendiri. Ia mengingatkan pentingnya menghindari reduksi Iran hanya dalam kerangka geopolitik Barat, karena pengalaman langsung memperlihatkan realitas yang lebih kompleks dibanding konstruksi wacana yang dibangun dari kejauhan.
Ia juga mencatat pelajaran lain dari Iran, yakni bahwa tradisi dan modernitas tidak selalu harus dipertentangkan, serta bahwa narasi kebangsaan dan keagamaan dapat saling berkelindan. Pengamatan tersebut, menurutnya, memberi perspektif baru dalam memahami hubungan agama dan negara yang sering dianggap problematik dalam studi Hubungan Internasional.
Program itu juga mempertemukan Rizki dengan sesama akademisi dan peneliti dari Indonesia. Ia menyebut diskusi di antara peserta menjadi ruang refleksi kolektif yang memperkaya pengalaman, serta menunjukkan pentingnya dialog intra-Muslim untuk membangun pemahaman yang lebih komprehensif tentang Islam.
Di tengah refleksi tersebut, Rizki turut menyinggung konteks kontemporer Iran yang berada dalam pusaran konflik geopolitik, terutama ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai pengalaman berada di Iran membuatnya melihat bahwa di balik narasi konflik dan ancaman, terdapat masyarakat, tradisi, dan peradaban yang berupaya bertahan.
Pada akhirnya, Rizki menyimpulkan bahwa pengalaman lapangan penting untuk membuat teori dan konsep menjadi lebih hidup, serta menjadi jembatan antara teks dan konteks. Ia juga menekankan perlunya sikap adil dalam memandang dunia di tengah arus narasi yang bias dan terpolarisasi. Dalam refleksinya, ia mengutip pemikiran Alexander Wendt tentang bagaimana relasi internasional dibentuk oleh cara negara saling memaknai dan memperlakukan satu sama lain, seraya menegaskan bahwa pengalaman langsung dapat membantu mematahkan jarak antara narasi dan realitas serta membuka ruang dialog dan perdamaian.

