SAMPIT—Dampak konflik global dinilai mulai terasa hingga ke daerah, termasuk di Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemerintah daerah diminta segera menyiapkan langkah antisipatif untuk melindungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dianggap paling rentan menghadapi gejolak ekonomi akibat konflik internasional.
Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sampit, Guruh Fajar Alamsyah, mengatakan meski konflik antara Amerika Serikat dan Iran terjadi jauh dari Indonesia, efek ekonominya tetap dapat dirasakan. Menurutnya, dampak tersebut terutama muncul melalui kenaikan harga energi dan bahan baku industri.
“Kalau kita lihat dari perspektif akademis, konflik antara Amerika Serikat dan Iran memang tidak berdampak langsung secara fisik ke daerah seperti Kotawaringin Timur. Tapi efek ekonominya terasa, terutama melalui kenaikan harga energi dan bahan baku,” katanya, Sabtu (4/4).
Ia menilai kenaikan biaya energi dan bahan baku akan mendorong meningkatnya biaya produksi. Kondisi itu, kata dia, akan langsung menekan pelaku usaha, terutama UMKM yang umumnya memiliki keterbatasan modal serta daya tahan usaha yang tidak terlalu kuat saat menghadapi gejolak.
“Bagi pelaku usaha ini cukup berat karena biaya produksi ikut naik. UMKM biasanya paling terasa dampaknya karena mereka memiliki keterbatasan modal dan daya tahan usaha yang tidak terlalu kuat menghadapi gejolak seperti ini,” ujarnya.
Guruh menjelaskan, meskipun konflik terjadi di luar negeri, Indonesia merupakan bagian dari sistem ekonomi global. Karena itu, setiap gangguan di tingkat internasional dapat memengaruhi kondisi ekonomi di dalam negeri.
“Ketika ada gangguan di tingkat global, efeknya bisa masuk melalui harga barang, distribusi, bahkan nilai tukar,” jelasnya.
Ia menambahkan, dampak tersebut biasanya mulai terlihat dari kenaikan harga barang tertentu maupun meningkatnya biaya logistik di pasar lokal. “Ini yang sering tidak disadari, bahwa peristiwa global bisa sampai ke level pasar tradisional,” katanya.

