Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum RI menggelar ASEAN IP Office Leaders Retreat di Padma Resort Legian, Bali, Minggu (5/4/2026). Forum ini menjadi pembuka menuju pertemuan utama ASEAN Working Group on Intellectual Property Cooperation (AWGIPC) yang akan diikuti delegasi seluruh negara anggota ASEAN.
Pertemuan tersebut menghadirkan para pimpinan kantor kekayaan intelektual (KI) negara-negara ASEAN, serta mitra strategis global dari World Intellectual Property Organization (WIPO). Agenda ini diarahkan untuk memperkuat kerja sama regional di tengah dinamika inovasi global yang terus berkembang.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menyatakan forum ini penting sebagai ruang respons cepat terhadap perubahan yang terjadi pada ekosistem inovasi. Ia menekankan perlunya kolaborasi kawasan untuk memastikan ekosistem kekayaan intelektual di ASEAN berkembang secara adaptif dan berorientasi ke masa depan.
Hermansyah juga menyoroti perubahan peran lembaga kekayaan intelektual yang kini tidak lagi sebatas menjalankan fungsi administratif. Menurutnya, kekayaan intelektual semakin menjadi pilar strategis dalam pembangunan ekonomi berbasis inovasi.
“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, kekayaan intelektual memainkan peran strategis dalam mendorong inovasi, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung transformasi ekonomi berbasis pengetahuan,” ujar Hermansyah dalam keterangan tertulis, Senin (6/4/2026).
Dalam diskusi, para delegasi membahas implementasi ASEAN Action Plan 2026–2030 dengan pendekatan whole-of-government. Pendekatan ini mengintegrasikan kebijakan kekayaan intelektual dengan sektor industri, perdagangan, pendidikan, riset, hingga ekonomi digital.
Selain itu, pembahasan juga mengarah pada konsep IP Office of the Future yang menekankan pemanfaatan teknologi digital, kebijakan berbasis data, serta kolaborasi lintas negara.
Dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa, ASEAN dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi berbasis inovasi. Namun, Hermansyah menegaskan potensi tersebut perlu ditopang oleh sistem kekayaan intelektual yang kuat, terintegrasi, dan ditopang kerja sama sebagai fondasi utama.

