New York — Pasar energi global disebut menghadapi tekanan struktural menyusul konflik di Timur Tengah yang mengganggu salah satu jalur maritim terpenting dunia, Selat Hormuz. Laporan Global Energy Weekly terbaru dari BofA Global Research menilai gangguan arus minyak melalui jalur tersebut dapat memicu krisis pasokan jika berlangsung lebih dari beberapa minggu.
Dalam laporan yang dikutip Investing.com pada Minggu, 5 April 2026, BofA menyebut pergerakan minyak dan produk olahan melalui Selat Hormuz anjlok dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi kurang dari 2 juta barel per hari. Para analis memperingatkan, bila kondisi ini berlanjut, dunia berisiko mengalami kerusakan rantai pasokan yang mengingatkan pada krisis energi parah pada dekade 1970-an.
BofA menilai harga minyak global belum sepenuhnya mencerminkan besarnya guncangan. Salah satu penyebabnya adalah pelepasan stok darurat serta keberadaan minyak yang masih berada di laut. Namun, data satelit disebut menunjukkan pasar yang semakin ketat dalam waktu cepat.
Seiring asumsi konflik yang lebih panjang, BofA merevisi proyeksi dasarnya dengan memperhitungkan defisit pasokan sebesar 4 juta barel per hari pada kuartal II 2026. Dampaknya, perkiraan rata-rata harga minyak mentah Brent untuk 2026 dinaikkan menjadi USD92,50 per barel.
Laporan itu juga menyoroti pelebaran kesenjangan antara produsen dan konsumen. Stok disebut menumpuk di negara-negara produsen Teluk yang tidak mampu mengekspor, sementara negara-negara konsumen mengurangi persediaan pada laju yang dinilai tidak berkelanjutan.
Di sisi pasokan alternatif, kapasitas cadangan melalui jalur pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut terbatas. BofA memperkirakan kekurangan pasokan yang berkepanjangan dapat menekan permintaan energi global sebesar 4% hingga 5% secara tahunan.
BofA menilai rantai pasokan minyak berpotensi memasuki titik kritis karena terbatasnya substitusi langsung untuk minyak, terutama di sektor transportasi dan petrokimia. Menurut analis, sikap pasar yang masih mengandalkan harapan perang singkat bisa berubah menjadi volatilitas harga yang ekstrem.
Jika konflik berlanjut lebih dari dua hingga empat minggu, BofA memperingatkan rantai pasokan minyak global dapat mencapai titik kritis dan memaksa pengurangan konsumsi energi secara wajib untuk menyeimbangkan pasar.
Laporan tersebut menyebut kekhawatiran investor institusional bergeser dari semata soal harga menjadi ketersediaan fisik. Perubahan aliran energi yang terjadi dinilai berisiko menimbulkan hambatan “stagflasi” bagi pertumbuhan global, seiring meningkatnya biaya energi dan keterbatasan fisik untuk memindahkan produk ke pusat-pusat penyulingan utama.
Saat ini, pasar disebut memantau apakah intervensi internasional darurat dapat memulihkan keamanan maritim sebelum cadangan persediaan di negara-negara konsumen benar-benar menipis.

