JAKARTA — China dilaporkan memperluas infrastruktur perang elektronik di Laut China Selatan, langkah yang dinilai menandai fase terbaru upaya Beijing memperkuat pengaruh militernya di kawasan Indo-Pasifik sekaligus menantang kehadiran militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.
Berdasarkan citra satelit dan laporan independen, perluasan fasilitas tersebut terpantau di Terumbu Fiery Cross, Mischief, dan Subi—tiga lokasi utama di Laut China Selatan yang telah direklamasi dan dimiliterisasi oleh China.
Instalasi yang disebut berkembang di area itu mencakup antena monopole, kendaraan pengacak sinyal bergerak, radome, serta posisi pertahanan yang diperkuat. Keberadaan fasilitas tersebut dinilai dapat mendukung kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dalam mengendalikan spektrum elektromagnetik, termasuk mengganggu komunikasi, merusak radar, dan melacak posisi pasukan asing di wilayah sengketa.
Pengembangan infrastruktur ini dilaporkan berlangsung intensif sepanjang 2023 hingga 2025. Sejumlah penilaian menyebut langkah itu merupakan bagian dari strategi lebih luas untuk mengurangi keunggulan tradisional AS dalam peperangan berbasis jaringan.
Dengan kemampuan perang elektronik, China berpotensi menghambat operasi pengintaian dan penargetan pihak lawan. Dampaknya, efektivitas operasi kelompok tempur kapal induk AS di kawasan tersebut dapat menurun.
Sejumlah analis juga menilai fokus China pada dominasi spektrum elektromagnetik mencerminkan perubahan doktrin militer modern. Dalam pendekatan ini, penguasaan informasi dan konektivitas dipandang sama pentingnya dengan kendali wilayah laut dan udara.
Integrasi pulau-pulau buatan dengan sistem pengacak bergerak serta jaringan kapal perang disebut dapat membentuk lapisan pertahanan yang kompleks dan saling terhubung di kawasan sengketa Laut China Selatan.

