Jakarta – Lembaga analisis big data Deep Intelligence Research (DIR) merilis temuan terbaru mengenai dinamika percakapan publik terkait isu Bahan Bakar Minyak (BBM). Dalam pemantauan periode 14 Maret hingga 1 April 2026, DIR mencatat lonjakan percakapan meski kabar kenaikan harga BBM per 1 April 2026 tidak terbukti.
Direktur Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menyebut peningkatan perhatian publik dipicu kekhawatiran atas stabilitas stok BBM domestik serta ketegangan geopolitik internasional yang dinilai berpotensi memengaruhi kondisi energi.
Riset DIR mencakup analisis terhadap 11.696 media siber, ratusan media cetak dan elektronik, serta platform media sosial seperti X, Facebook, dan TikTok. Dari pemantauan tersebut, DIR menemukan perbedaan pola narasi yang cukup tajam antara kanal berita resmi dan ruang publik digital.
Menurut hasil monitoring, pemberitaan di media arus utama didominasi sentimen positif sebesar 71%, netral 4%, dan negatif 26%. Neni menjelaskan, narasi media mainstream cenderung berfokus pada jaminan stok dari Pemerintah dan Pertamina. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Sabtu (4/4/2026).
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di media sosial. DIR mencatat emosi Anticipation atau kewaspadaan menjadi narasi utama di hampir seluruh platform digital. Total percakapan yang terpantau mencapai 194.419 dengan jangkauan audiens lebih dari 910 juta.
DIR juga menangkap pola “wait and see” yang kuat. Di platform seperti X dan Threads, muncul emosi Fear (takut) dan Anger (marah) yang dikaitkan dengan potensi krisis energi serta dampaknya terhadap biaya logistik.
Sentimen negatif di media sosial, menurut DIR, banyak dipicu isu penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah. Publik dinilai reaktif karena khawatir ketegangan tersebut akan berdampak langsung pada harga energi di dalam negeri.
Di sisi lain, DIR menemukan munculnya wacana kebijakan alternatif secara organik dari warganet. Analisis word cloud menunjukkan kata kunci Work From Home (WFH) mulai ramai diperbincangkan sebagai opsi mitigasi jika tekanan energi berlanjut dan membebani biaya transportasi.
Menyikapi tingginya emosi kewaspadaan di ruang digital, DIR merekomendasikan pemerintah memperkuat strategi komunikasi yang lebih empatik dan berbasis data. Langkah ini dinilai penting untuk meredam spekulasi yang berpotensi memicu ketidakstabilan sosial.
Neni mengingatkan, emosi kewaspadaan yang terlalu tinggi dapat memicu panic buying dan berpotensi berubah menjadi kemarahan dalam waktu singkat apabila tidak ada langkah antisipasi yang tepat dari pihak berwenang.

