Jakarta — DPR RI mendorong PT Pertamina (Persero) melakukan berbagai terobosan untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. Dorongan ini menguat seiring potensi terganggunya pasokan energi dunia akibat konflik di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran dampak penutupan Selat Hormuz oleh Teheran setelah serangan AS-Israel ke Iran.
Anggota Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan menilai ancaman krisis energi perlu disikapi secara serius oleh pemerintah, terutama melalui langkah-langkah strategis Pertamina. Ia menyebut pengembangan bahan bakar berbasis energi terbarukan, seperti B50 dan bioetanol, serta penguatan infrastruktur penyimpanan energi nasional sebagai upaya yang perlu dipercepat.
“Kami mendorong agar Pertamina menjaga stok energi, sekaligus melakukan terobosan melalui hilirisasi B50 dan bioetanol, serta memperbesar kapasitas storage agar lebih aman,” kata Rokhmat dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Rokhmat juga menyoroti peningkatan konsumsi energi selama periode Lebaran. Menurutnya, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan hari normal.
Meski terjadi lonjakan konsumsi, DPR mencatat stok energi nasional masih dalam kondisi aman. Ketahanan stok untuk beberapa jenis BBM disebut berada di atas ambang batas minimal, antara lain Dex yang mencapai lebih dari 30 hari dan Pertalite di atas 20 hari.
Politikus Partai Golkar itu menegaskan pentingnya menjaga stok energi agar tidak turun di bawah batas minimal 20 hari. Ia menilai upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan oleh pemerintah bersama Pertamina.
“Pemerintah dan Pertamina harus terus menjaga stok nasional dan menghadirkan berbagai inovasi agar ketahanan energi tetap terjaga,” ujarnya.
Selain menjaga ketersediaan stok, DPR turut mendorong peningkatan kapasitas penyimpanan energi sebagai langkah strategis memperkuat cadangan nasional. Upaya ini dinilai penting untuk menghadapi potensi gangguan pasokan di masa mendatang.

