SURABAYA — Dampak krisis ekonomi global mulai dirasakan hingga tingkat daerah, termasuk di Kabupaten Tuban. Ketidakpastian ekonomi, pandemi, dan konflik geopolitik disebut memberi tekanan pada pasar tenaga kerja serta berpotensi meningkatkan angka pengangguran.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tuban Ony Setiawan menilai situasi tersebut perlu direspons dengan langkah konkret berbasis potensi lokal. Ia mendorong penguatan kewirausahaan muda, khususnya di sektor pertanian dan agroindustri.
“Setiap krisis global selalu berdampak sistemik. Produksi menurun, investasi tertahan, dan akhirnya penyerapan tenaga kerja ikut tertekan,” kata Ony dalam keterangan yang diterima Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, salah satu dampak yang paling terlihat adalah lonjakan pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Penurunan permintaan global, menurutnya, memaksa banyak perusahaan mengurangi skala operasional.
Ony juga menilai ancaman resesi global dapat memperburuk keadaan. Ketidakstabilan pasar membuat dunia usaha menahan ekspansi dan menghentikan rekrutmen tenaga kerja baru. “Ini yang membuat angka pengangguran berpotensi meningkat signifikan,” ujarnya.
Selain pasar kerja, krisis global disebut turut menekan kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga pangan dan energi mendorong inflasi, sementara upah riil dinilai tidak mengalami penyesuaian yang memadai.
“Daya beli masyarakat turun. Upah yang diterima tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok yang terus naik,” kata Ony.
Menurutnya, tekanan tersebut dapat berimplikasi pada peningkatan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Hilangnya pendapatan atau menurunnya nilai upah riil dinilai memperburuk kondisi kelompok rentan.
Ony juga menyoroti meningkatnya ketidakamanan kerja atau job insecurity. Ia menyebut sebagian pekerja formal yang kehilangan pekerjaan terpaksa beralih ke sektor informal dengan perlindungan yang lebih rendah.
“Fleksibilitas kerja sering kali dipaksakan. Hak-hak pekerja tergerus demi mempertahankan kelangsungan usaha,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelompok yang paling terdampak adalah anak muda dan pekerja berpendidikan rendah. Generasi muda dinilai menjadi korban utama karena minim pengalaman kerja pada saat perusahaan menahan perekrutan.

