Ekspor nafta Amerika Serikat (AS) dilaporkan melonjak seiring terganggunya pasokan dari Timur Tengah akibat perang Iran. Kondisi tersebut mendorong sejumlah pembeli, termasuk di Jepang, beralih mencari bahan baku petrokimia itu dari wilayah Texas dan Louisiana.
Data perusahaan analitik Kpler menunjukkan AS mengekspor sekitar 15 juta barel nafta pada Maret, yang disebut sebagai jumlah terbesar dalam satu bulan.
Sementara itu, perkiraan dari Vortexa menyebut ekspor nafta AS mencapai 11,5 juta barel pada bulan lalu. Jika angka tersebut terkonfirmasi, volume itu akan menjadi yang tertinggi dalam empat tahun.
Peningkatan penjualan nafta AS juga disebut berlanjut seiring bertambahnya pengiriman nafta ke Venezuela setelah penangkapan mantan Presiden Nicolás Maduro. Perkembangan ini menyoroti bagaimana tindakan militer Presiden AS Donald Trump telah mengganggu arus perdagangan global.

