Ancaman El Nino yang diperkirakan mulai berdampak di Indonesia sejak pertengahan 2026 memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas pangan nasional. Risiko ini dinilai meningkat karena datang bersamaan dengan gejolak global yang mengganggu pasokan energi dan rantai pasok pupuk, sehingga berpotensi menekan produksi pertanian di berbagai daerah.
Sejumlah konflik berkepanjangan di berbagai kawasan dunia disebut telah mengacaukan pasar energi. Dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tetapi juga pada ketersediaan dan harga pupuk—komponen penting dalam produksi pangan. Di tingkat petani, perhatian menjelang musim tanam berikutnya kini ikut tertuju pada dua faktor krusial: kepastian pupuk dan ketersediaan air irigasi.
El Nino diproyeksikan membawa kemarau yang lebih panjang dan lebih kering, serta mengurangi curah hujan di sejumlah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Kombinasi cuaca ekstrem dan tekanan biaya input dinilai dapat memperbesar risiko penurunan hasil panen.
Dalam dua tahun terakhir, lembaga dunia seperti Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) serta Bank Dunia berulang kali mengingatkan bahwa krisis pangan global tidak lagi dipicu satu faktor. Mereka menilai krisis muncul dari kombinasi konflik geopolitik dan perubahan iklim. Sejak 2022, lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat konflik membuat harga pupuk dunia meningkat lebih dari 70% dibandingkan rata-rata sebelum pandemi. Kondisi yang belum sepenuhnya pulih itu kembali dibayangi ketegangan baru di Timur Tengah.
Tarsono, petani padi dari Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, Jawa Barat, menggambarkan situasi di lapangan. Ia menyebut musim tanam pertama 2026 masih menunjukkan perkembangan yang baik.
“Perkembangan tanaman padi sejauh ini cukup menggembirakan, untuk musim tanam pertama masih aman,” kata Tarsono saat dihubungi Minggu (5/4/2026).
Namun ia mengaku cemas menghadapi musim tanam kedua yang umumnya berlangsung pada Juni hingga Juli, terutama jika kelangkaan pupuk terjadi bersamaan dengan kemarau yang lebih kering.
“Kalau pupuk langka dan ditambah ancaman El Nino yang membuat cuaca lebih kering, pasti akan sangat berpengaruh terhadap produksi padi kami,” ujarnya. Tarsono merupakan anggota Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan dinamika global. Konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi yang kemudian memengaruhi rantai pasok pupuk kimia dan pestisida. Selat Hormuz disebut menjadi titik rawan karena sekitar 30% perdagangan pupuk global melintasi jalur tersebut, termasuk pasokan gas alam cair (LNG) yang menjadi bahan baku utama pupuk urea, serta sekitar 27% minyak dunia.
Di sisi produksi, pupuk nitrogen melalui proses Haber-Bosch sangat bergantung pada energi. Disebutkan bahwa sekitar 70–80% biaya produksi urea berasal dari gas alam, sehingga kenaikan harga energi kerap langsung diikuti kenaikan harga pupuk di pasar global.
Di tengah situasi itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan pasokan pupuk di dalam negeri masih relatif aman. Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Kamis (2/4/2026) mengatakan kebutuhan pupuk urea nasional sebagian besar dapat dipenuhi produksi domestik. Indonesia memiliki kapasitas produksi urea operasional 8,8 juta ton, dengan kapasitas terpasang 9,4 juta ton.
“Saya ingin meyakinkan bahwa terkait stok pupuk di Indonesia semuanya aman. Indonesia adalah negara eksportir urea, sehingga suplai yang terganggu di pasar global tidak akan terlalu berdampak,” tegas Rahmad. Ia juga menyebut Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan naik meski terjadi gejolak di Selat Hormuz.
Namun, pakar pertanian IPB University Prof. Dr. Suryo Wiyono menilai situasi tetap perlu diwaspadai. Menurutnya, meskipun urea diproduksi di dalam negeri, proses produksinya tetap memerlukan energi gas alam. Jika pasokan energi terganggu atau harganya melonjak, biaya produksi pupuk domestik berpotensi ikut naik.
Suryo juga menyoroti kerentanan pada pupuk fosfor dan kalium yang masih bergantung pada bahan baku impor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026 menunjukkan 42,89% impor bahan fosfor dan kalium berasal dari negara-negara Eropa seperti Rusia, Belarus, Jerman, dan Norwegia, serta Mesir dan Jordania. Rusia dan Belarus disebut menguasai lebih dari sepertiga pasokan fosfor global, sehingga gangguan di negara-negara tersebut dapat memengaruhi harga pupuk dunia.
Selain pupuk, harga pestisida diperkirakan naik 20–30%. Jika pemerintah tidak menaikkan HET pupuk subsidi, maka anggaran subsidi pupuk yang selama ini berada di kisaran Rp 30–40 triliun per tahun berpotensi meningkat.
Ancaman El Nino turut memperbesar tekanan. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal dan lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Secara historis, El Nino kerap memukul produksi pangan Indonesia melalui penurunan curah hujan dan meningkatnya risiko kekeringan di lumbung padi.
Catatan dampak masa lalu menunjukkan El Nino kuat 1997/1998 menurunkan produksi padi 3,6% dibandingkan 1997 dan hingga 6% dibandingkan 1996, serta memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional. Sementara El Nino 2024 disebut menurunkan produksi beras 2,28 juta ton pada Januari hingga April, atau turun 17,52% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Suryo, dampak El Nino akan lebih besar jika terjadi bersamaan dengan kenaikan biaya produksi akibat gangguan pupuk dan energi. Ia merekomendasikan strategi adaptasi di tingkat petani dan kebijakan yang lebih kuat, termasuk teknologi budidaya yang lebih ekologis dan berkelanjutan.
“Kita harus melakukan penghematan penggunaan pupuk dan pestisida pabrikan dengan menerapkan teknik budidaya biointensif dan peningkatan bahan organik tanah,” jelasnya.
Ia menyebut teknik biointensif yang dikembangkannya dapat mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30% dan pestisida hingga 70% tanpa menurunkan hasil panen. Pendekatan ini juga dinilai meningkatkan bahan organik tanah sehingga tanaman lebih tahan terhadap kekeringan, membantu penghematan air irigasi, dan mengurangi ketergantungan pada pompa air berbahan bakar minyak.
Pendekatan tersebut sejalan dengan rekomendasi FAO yang mendorong pertanian ramah lingkungan. Di tengah krisis yang melibatkan perang, energi, dan iklim, Indonesia dinilai perlu mempercepat transisi menuju pupuk serta pestisida ekologis, sekaligus memanfaatkan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, dan tenaga angin di sektor pertanian.
Berbagai tekanan yang muncul menunjukkan tantangan pangan tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan pertemuan faktor geopolitik, energi, dan iklim. Bagi petani, persoalan itu hadir dalam bentuk pertanyaan praktis: apakah pupuk tersedia tepat waktu, apakah air irigasi cukup, dan apakah panen tetap dapat diandalkan ketika El Nino semakin dekat. Dengan persiapan, teknologi yang tepat, dan kebijakan yang responsif, dampak risiko tersebut diharapkan dapat ditekan agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga pada 2026 dan seterusnya.

