BERITA TERKINI
Enam Nama, Satu Kursi: Perebutan Kepemimpinan PBB di Tengah Dunia yang Retak

Enam Nama, Satu Kursi: Perebutan Kepemimpinan PBB di Tengah Dunia yang Retak

Nama calon pemimpin PBB mendadak ramai dicari di Indonesia, seolah publik ingin memastikan dunia masih punya jangkar ketika badai geopolitik tak kunjung reda.

Isu ini menjadi tren karena PBB sedang berdiri di persimpangan: perang, krisis anggaran, dan perpecahan negara besar membuat kursi Sekretaris Jenderal terasa jauh lebih menentukan.

Di tengah ketidakstabilan global, enam kandidat disebut bersaing menggantikan Antonio Guterres.

Empat perempuan dan dua laki-laki membawa rekam jejak, jaringan dukungan, serta kontroversi yang berbeda.

Namun, satu hal sama: siapa pun yang terpilih harus menavigasi PBB yang dinilai makin sulit bergerak, justru ketika dunia menuntut respons cepat.

-000-

Mengapa Isu Ini Meledak di Google Trend

Pertama, publik menangkap sinyal krisis ganda: konflik bersenjata di berbagai kawasan dan krisis anggaran serius yang membatasi kerja PBB.

Kombinasi itu membuat pergantian pemimpin bukan sekadar rutinitas, melainkan penentuan arah organisasi yang diharapkan menjadi penyangga perdamaian.

Kedua, mekanisme pemilihan memancing rasa ingin tahu karena tampak sederhana namun sebenarnya rumit.

Kandidat hanya memerlukan sembilan suara dari 15 anggota Dewan Keamanan.

Tetapi ia harus lolos dari veto lima anggota tetap: Amerika Serikat, Inggris, Cina, Prancis, dan Rusia.

Ketiga, daftar kandidat memuat nama-nama dengan latar kuat dan kisah personal yang mudah memantik diskusi publik.

Ada mantan presiden, diplomat senior, kepala badan PBB, hingga figur yang pernah berseteru dengan negara besar karena isu hak asasi manusia.

-000-

Kursi Sekjen PBB di Era Ketidakpastian

Berita ini menempatkan kita pada satu pertanyaan kontemplatif: ketika dunia makin terpolarisasi, seberapa besar ruang pemimpin PBB untuk benar-benar memimpin?

Secara formal, Sekjen bukan kepala negara, bukan pula pemegang komando militer.

Namun, jabatan itu memikul mandat moral, diplomasi senyap, dan kemampuan menggerakkan birokrasi global yang besar.

Di saat konflik dan ketidakpercayaan meningkat, modal paling mahal bukan lagi pidato.

Modalnya adalah kredibilitas, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan menjaga pintu dialog tetap terbuka.

Dalam berita ini, para pengamat menilai sulit menentukan kandidat unggulan karena negara-negara besar masih terpecah.

Perpecahan itu penting dibaca sebagai konteks, bukan sekadar drama pemilihan.

Ia menunjukkan bahwa PBB bekerja di bawah bayang-bayang kepentingan kekuatan besar, terutama lewat hak veto.

-000-

Enam Kandidat, Enam Cara Membaca Dunia

Rafael Grossi dari Argentina sering disebut sebagai salah satu kandidat terkuat.

Ia memimpin Badan Energi Atom Internasional sejak 2019.

Posisi itu menempatkannya di pusat isu sensitif, termasuk sengketa program nuklir Iran.

Ia juga berada di pusaran persoalan pendudukan Rusia atas PLTN Zaporizhzhia di Ukraina.

Grossi tidak mengundurkan diri dari posisinya untuk berkampanye.

Ia menyebut meninggalkan tugas sebagai pelepasan tanggung jawab.

Sejumlah pengamat menilai ia lebih vokal mendorong reformasi PBB.

Mereka percaya Sekjen harus lebih aktif dan langsung menangani persoalan dunia.

-000-

Michelle Bachelet dari Cile membawa pengalaman politik dan beban sejarah personal.

Ia pernah mengalami penyiksaan brutal di bawah rezim Augusto Pinochet.

Ia kemudian menjadi presiden perempuan pertama Cile pada 2006.

Setelah itu, ia menjabat Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Posisi sensitif itu membuatnya berselisih dengan sejumlah negara, terutama Cina.

Pemerintah Cina mengecam Bachelet atas laporannya mengenai dugaan pelanggaran hak kelompok minoritas Uyghur.

Bachelet berusia 74 tahun menyatakan Sekjen harus memiliki moral untuk memimpin, bahkan di bawah tekanan negara besar.

Ia mendapat dukungan dari Meksiko dan Brasil.

Namun, pemerintah Cile menarik dukungan setelah Presiden Jose Antonio Kast berkuasa.

Amerika Serikat juga pernah mengkritiknya, terutama terkait dukungannya terhadap hak aborsi.

-000-

Maria Fernanda Espinosa, mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, menekankan PBB sebagai lembaga universal untuk tantangan bersama.

Namun, ia juga mendorong reformasi lebih mendalam terhadap organisasi itu.

Espinosa berusia 61 tahun dan pernah menjadi Presiden Majelis Umum PBB.

Ia mengusulkan sistem peringatan dini untuk mendeteksi gejala pemicu konflik antarnegara sebelum meledak.

Pencalonannya didukung Antigua dan Barbuda, sementara Ekuador tidak memberikan dukungan.

-000-

Rebeca Grynspan dari Kosta Rika saat ini memimpin UNCTAD.

Ia mengambil cuti dari jabatannya untuk berkampanye.

Pada 2022, ia membantu memediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam antara Moskow dan Kyiv.

Kesepakatan itu memungkinkan ekspor gandum tetap berjalan setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Grynspan berusia 70 tahun dan sering menuturkan kisahnya sebagai putri orang tua Yahudi.

Ia menarasikan dirinya sebagai sosok yang nyaris selamat dari Holocaust sebelum bermigrasi ke Kosta Rika.

Ia menyayangkan PBB telah menjadi organisasi yang sangat berhati-hati terhadap risiko.

Ia menyebutnya risk-conservative organization.

-000-

Carolyn Rodrigues-Birkett dari Guyana adalah mantan Menteri Luar Negeri dan kini duta besar untuk PBB.

Ia berusia 52 tahun dan menilai PBB perlu memulihkan kembali kredibilitasnya.

Menurutnya, PBB sering dinilai hanya dari sisi perdamaian dan keamanan.

Padahal, kontribusinya juga besar di pembangunan dan hak asasi manusia.

-000-

Macky Sall dari Senegal menjadi satu-satunya kandidat yang tidak berasal dari Amerika Latin.

Kawasan itu, menurut tradisi, dianggap berhak mengisi jabatan Sekjen berikutnya.

Sall, 64 tahun, menekankan perdamaian dan pembangunan sebagai dua hal yang saling terkait.

Pencalonannya diajukan Burundi selaku ketua Uni Afrika saat ini.

Baru pekan ini ia memperoleh dukungan resmi dari negaranya sendiri.

Namun, otoritas Senegal menuduh Sall melakukan penindasan dalam demonstrasi politik.

Tuduhan itu menyebut puluhan korban jiwa antara 2021 hingga 2024.

-000-

Politik Veto dan Batas Kepemimpinan Moral

Pemilihan Sekjen PBB sering dibayangkan sebagai kontes kualitas pribadi.

Padahal, ia juga kontes tentang apa yang bisa diterima lima negara pemegang veto.

Mekanisme ini membuat jabatan Sekjen berada di antara dua tuntutan yang kerap bertabrakan.

Di satu sisi, dunia menuntut keberpihakan pada prinsip dan hukum internasional.

Di sisi lain, proses pemilihan menuntut kemampuan bertahan dari penolakan kekuatan besar.

Dalam ilmu hubungan internasional, ini dekat dengan gagasan realisme: kepentingan negara kuat membentuk aturan main.

Namun, ada pula tradisi liberal institusional yang menekankan lembaga internasional sebagai ruang menahan konflik.

PBB hidup di antara dua tarikan itu setiap hari.

Karena itu, perdebatan tentang kandidat sebenarnya perdebatan tentang model PBB.

Apakah PBB harus lebih vokal dan konfrontatif, atau lebih senyap dan transaksional.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia

Bagi Indonesia, isu ini bukan sekadar urusan jauh di New York.

Stabilitas global memengaruhi harga pangan, energi, dan arus perdagangan yang menyentuh dapur rumah tangga.

Ketika konflik mengganggu rantai pasok, negara berkembang merasakan dampaknya lebih cepat.

Indonesia juga memiliki kepentingan besar pada multilateralisme.

Di banyak forum, Indonesia kerap menempatkan diri sebagai jembatan dialog dan pengusung kerja sama.

Karena itu, kredibilitas PBB berkaitan dengan ruang gerak diplomasi negara-negara menengah.

Jika PBB melemah, politik internasional cenderung kembali menjadi arena kekuatan telanjang.

Dalam arena seperti itu, negara yang tidak punya veto harus bekerja dua kali lebih keras untuk didengar.

Isu ini juga terkait dengan diskusi tentang reformasi tata kelola global.

Banyak negara mempertanyakan apakah arsitektur pasca Perang Dunia masih adil untuk dunia hari ini.

-000-

Riset dan Kerangka Konseptual: Kepercayaan, Legitimasi, dan Krisis Anggaran

Berita ini menyebut krisis anggaran serius di PBB.

Dalam studi organisasi internasional, krisis anggaran sering berujung pada krisis kapasitas.

Kapasitas yang turun membuat mandat sulit dijalankan, lalu publik menilai lembaga gagal.

Penilaian gagal menurunkan legitimasi, dan legitimasi yang turun membuat dukungan politik makin tipis.

Siklus ini dikenal luas dalam literatur tata kelola publik: kepercayaan adalah modal kerja institusi.

Ketika modal itu menipis, pemimpin baru menghadapi pekerjaan yang lebih sunyi dari sekadar memadamkan konflik.

Ia harus memulihkan keyakinan bahwa prosedur PBB masih berguna.

Di titik ini, pernyataan Rodrigues-Birkett tentang pemulihan kredibilitas menjadi relevan.

Begitu pula kritik Grynspan tentang budaya terlalu hati-hati terhadap risiko.

Organisasi yang takut salah sering bergerak lambat.

Namun, organisasi yang terlalu berani juga bisa kehilangan dukungan politik.

Dilema ini menuntut pemimpin yang tahu kapan menahan diri dan kapan mengambil inisiatif.

-000-

Referensi Kasus Luar Negeri yang Serupa

Perebutan kursi Sekjen PBB kerap memunculkan pola yang mirip dengan pemilihan pemimpin lembaga multilateral lain.

Di berbagai negara, pemilihan pemimpin organisasi internasional sering dipengaruhi tarik-menarik negara besar.

Publik global juga kerap menyoroti kandidat yang dianggap paling tegas pada isu hak asasi manusia.

Dalam konteks berita ini, pengalaman Bachelet yang berselisih dengan Cina menunjukkan pola tersebut.

Di sisi lain, figur dengan rekam jejak teknokratis pada isu keamanan strategis juga sering menguat.

Posisi Grossi di IAEA menempatkannya pada jalur itu, karena isu nuklir selalu berada di jantung keamanan global.

Kasus-kasus semacam ini menunjukkan satu pelajaran: lembaga internasional sering mencari pemimpin yang bisa diterima banyak pihak.

Akibatnya, proses seleksi kerap menjadi ujian kompromi, bukan hanya ujian visi.

-000-

Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, publik perlu membedakan antara popularitas kandidat dan kemungkinan terpilihnya.

Karena faktor veto, kandidat yang paling disukai publik belum tentu lolos kalkulasi politik negara besar.

Kedua, diskusi di Indonesia sebaiknya tidak berhenti pada siapa yang menang.

Diskusi perlu menyentuh apa agenda reformasi PBB yang relevan dengan kepentingan global dan negara berkembang.

Ketiga, penting menilai gagasan yang muncul dalam profil kandidat.

Misalnya, ide Espinosa tentang peringatan dini konflik.

Atau dorongan Grossi untuk peran Sekjen yang lebih aktif.

Atau peringatan Grynspan tentang budaya organisasi yang terlalu takut risiko.

Keempat, media dan pembaca perlu menjaga disiplin informasi.

Isu global mudah menjadi arena spekulasi, padahal kredibilitas diskusi publik bertumpu pada ketelitian.

Kelima, pemerintah dan komunitas kebijakan di Indonesia dapat memanfaatkan momen ini untuk memperkuat literasi multilateralisme.

PBB bukan sesuatu yang jauh, karena dampaknya hadir dalam perdagangan, pangan, dan norma hak asasi manusia.

-000-

Penutup: Mencari Pemimpin, Menjaga Harapan

Enam kandidat ini berdiri di depan panggung yang rapuh.

PBB sedang diuji oleh konflik, keterbatasan anggaran, dan perpecahan kekuatan besar.

Namun, justru karena rapuh itulah dunia menoleh.

Dalam keretakan, manusia cenderung mencari sosok yang bisa merajut kembali makna kerja sama.

Bagi Indonesia, mengikuti proses ini adalah latihan melihat dunia apa adanya, tanpa kehilangan harapan tentang dunia yang seharusnya.

Karena pada akhirnya, diplomasi bukan hanya tentang menang.

Diplomasi adalah tentang mencegah yang paling buruk, sambil perlahan membuka peluang bagi yang lebih baik.

Seperti pengingat yang layak kita simpan bersama: “Harapan bukan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja, melainkan keberanian untuk tetap bekerja ketika semuanya belum baik.”