Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Bramantyo Suwondo menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai penentu masa depan Indonesia dan kawasan ASEAN. Menurutnya, penguatan pendidikan, peningkatan kapasitas kepemimpinan, serta keterlibatan aktif pemuda dalam forum regional menjadi kunci untuk mendorong kolaborasi dan diplomasi antarnegara.
Pernyataan itu disampaikan Bramantyo dalam sesi berbagi pengalaman terbaik pada The 3rd Consultative Meeting of Young Parliamentarians of ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (YPA) di Jakarta, Selasa (28/04/2026). Pertemuan tersebut mengusung tema “Pemuda ASEAN: Memperkuat Solidaritas dan Memberdayakan Pemimpin yang Siap Menghadapi Masa Depan”.
Bramantyo menyebut, mayoritas penduduk di kawasan ASEAN didominasi generasi muda. Karena itu, investasi pada pendidikan dan penguatan kapasitas dinilai sebagai langkah strategis yang perlu terus didorong oleh negara-negara anggota.
“Pemuda adalah masa depan Indonesia dan juga regional ASEAN. Kita perlu memberikan contoh nyata dan membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk berkembang,” ujar Bramantyo.
Ia menjelaskan, salah satu upaya konkret dilakukan melalui forum ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) yang menghadirkan program seperti model AIPA. Program ini memberi kesempatan kepada pemuda untuk merasakan langsung proses diplomasi antarnegara.
“Di AIPA ada model yang memungkinkan anak muda belajar berdiplomasi, berdialog lintas negara, hingga melakukan kunjungan ke kampus-kampus. Ini penting untuk memberikan exposure tentang kepemimpinan global,” katanya.
Menurut Bramantyo, semakin banyak ruang interaksi yang dibuka—baik melalui kunjungan ke kampus, sekolah, maupun forum internasional—akan memperkuat kemampuan kepemimpinan dan organisasi generasi muda.
Ia juga menyampaikan bahwa BKSAP DPR turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, khususnya kalangan akademisi dan mahasiswa. Komunikasi yang intens dengan kampus dinilai penting untuk “membumikan” diplomasi agar lebih dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.
“Kita ingin diplomasi ini tidak terasa jauh, tapi justru berdampak langsung bagi pemuda. Mereka perlu memahami tantangan global dan bersama-sama mencari solusi,” ujarnya.
Selain itu, Bramantyo menekankan pentingnya menjadikan isu kepemudaan dan literasi digital sebagai agenda bersama di tingkat regional. Ia menilai pemanfaatan teknologi seperti media sosial dan platform pertemuan virtual dapat memperkuat dialog lintas negara tanpa terhambat jarak dan waktu.
“Kita bisa memanfaatkan teknologi seperti media sosial dan pertemuan daring untuk membangun forum yang konstruktif. Ini cara efektif untuk memperkuat kolaborasi pemuda ASEAN,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Bramantyo berharap intensitas dialog dan keterlibatan aktif lintas generasi dapat memperkuat identitas kepemudaan ASEAN sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan masa depan kawasan.
“Dengan semakin seringnya interaksi dan kolaborasi, kita bisa membangun identitas ASEAN yang kuat. Pemuda adalah kekuatan utama ASEAN ke depan,” pungkasnya.