Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan harga pangan global naik 2,4% pada Maret 2026. Kenaikan ini dipicu meningkatnya biaya energi seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
FAO menyebut kenaikan tersebut menjadi yang kedua secara beruntun dalam dua bulan terakhir, menandakan tekanan yang berkelanjutan pada pasar pangan dunia.
Dalam laporan terbarunya, FAO mencatat seluruh kelompok komoditas utama mengalami kenaikan harga, mencakup sereal, daging, produk susu, minyak nabati, hingga gula.
Secara tahunan, Indeks Harga Pangan FAO tercatat naik 1% atau sekitar 1,2 poin dibanding periode yang sama tahun lalu. Untuk komoditas sereal, indeks harga meningkat 1,5% secara bulanan menjadi 110,4 poin dan naik 0,6% secara tahunan.
Harga minyak nabati mencatat kenaikan paling signifikan, yakni 5,1% dibanding Februari menjadi 183,1 poin, serta melonjak 13,2% secara tahunan. FAO menyebut lonjakan ini dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah global, yang turut mendorong harga minyak sawit ke level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Di sisi lain, indeks harga daging naik 1% menjadi 127,7 poin atau 8% lebih tinggi dibanding tahun lalu. Sementara itu, harga produk susu meningkat 1,2% menjadi 120,9 poin, meski secara tahunan masih lebih rendah 18,7% dibanding Maret 2025.
Untuk komoditas gula, FAO mencatat tekanan harga meningkat seiring kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik Timur Tengah terhadap distribusi global. Kenaikan harga energi juga mendorong negara produsen seperti Brasil mengalihkan produksi tebu ke etanol, sehingga pasokan gula berpotensi berkurang.

