Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) Mohammed Al Budaiwi mendesak Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengambil langkah-langkah guna melindungi jalur maritim dan memastikan keamanan navigasi internasional, di tengah terhentinya pelayaran melalui Selat Hormuz.
Dalam pertemuan DK PBB pada Kamis (1/4), Al Budaiwi mengatakan Dewan Keamanan perlu “bertanggung jawab penuh” dan melakukan semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan pelayaran yang aman. Ia juga menyerukan agar negara-negara Teluk dilibatkan dalam setiap diskusi atau perjanjian dengan Iran, dengan alasan penguatan keamanan regional dan pencegahan eskalasi lebih lanjut.
Terhentinya pelayaran di Selat Hormuz terjadi setelah meningkatnya konflik terbaru di Timur Tengah, yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Selain melakukan serangan balasan, Iran disebut kini mengendalikan jalur utama pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk ke pasar global.
Penutupan Selat Hormuz berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan, serta memicu kenaikan harga energi global. Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar dunia.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak deeskalasi dan penghentian konflik di tengah operasi militer gabungan AS-Israel yang terus berlangsung terhadap Iran. Dalam konferensi pers pada Kamis, Guterres memperingatkan bahwa situasi saat ini berada “di ambang perang yang lebih luas” yang dapat melanda seluruh Timur Tengah dan berdampak dramatis secara global.
“Lingkaran kematian dan kehancuran harus dihentikan,” kata Guterres. Ia menekankan perlunya dukungan bagi upaya penyelesaian konflik secara damai.
Guterres kembali menyerukan kepada AS dan Israel untuk menghentikan serangan yang, menurutnya, telah menyebabkan “penderitaan manusia yang luar biasa” dan menimbulkan “konsekuensi yang menghancurkan.” Ia juga meminta Iran menahan diri dari serangan balasan lebih lanjut di Teluk Persia.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Eskalasi tersebut kemudian memicu blokade Selat Hormuz dan mengguncang pasar energi, seiring naiknya harga akibat terganggunya jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.

