Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang belum diketahui kapan berakhir disebut mengancam perekonomian dunia. Menipisnya pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, ditambah tersendatnya arus logistik akibat penutupan Selat Hormuz, membuat sejumlah negara yang tidak memiliki sumber energi sendiri mulai mengalami tekanan berat.
Dalam dua pekan terakhir, harga bahan baku industri petrokimia dan plastik dilaporkan naik lebih dari 30 persen. Kondisi ini dinilai berisiko membuat banyak industri petrokimia di berbagai negara berhenti beroperasi. Dampaknya juga merembet ke sektor-sektor yang membutuhkan kemasan plastik, yang diperkirakan akan kesulitan memperoleh pasokan plastik dalam waktu dekat.
Indonesia disebut turut terdampak langsung oleh memburuknya ekonomi global. Industri petrokimia dan turunannya dinilai terancam berhenti beroperasi, yang berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila bahan baku semakin sulit didapat.
Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul harapan agar perang di Timur Tengah segera berakhir. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya situasi ekonomi dunia, pemerintah dan masyarakat diminta melakukan penghematan energi.
Selain penghematan energi, penghematan anggaran juga disorot. Aparat pemerintah, DPR, dan DPRD diharapkan menunda belanja yang tidak terkait langsung dengan kepentingan masyarakat kecil. Seruan juga disampaikan agar kebocoran anggaran tidak terjadi, termasuk penyalahgunaan anggaran bantuan sosial dan anggaran penyelamatan usaha rakyat kecil.
Di sisi lain, BUMN dan perusahaan swasta besar, pemilik modal, serta anggota Kadin Indonesia diharapkan bergotong royong membantu bisnis rakyat kecil yang terancam gulung tikar. Pasalnya, perang tersebut juga disebut membuat sejumlah industri besar di negara maju mulai terseok-seok, terutama karena kesulitan bahan baku atau harus membeli dengan harga hampir dua kali lipat.
Untuk industri yang mengalami kesulitan bahan baku, pemerintah dinilai perlu mencarikan alternatif sumber pasokan. Langkah ini dipandang penting karena apabila industri besar berhenti, usaha rakyat kecil yang menjadi mitra berisiko ikut terdampak hingga bangkrut.
Secara keseluruhan, kondisi ekonomi dunia yang disebut semakin tidak menentu sejak awal Maret 2026 dinilai perlu diantisipasi bersama melalui semangat gotong royong. Pemilik modal diharapkan membantu pihak yang lebih lemah, sementara pelaku usaha kecil didorong memperkuat kerja sama agar bisa bertahan di tengah gejolak global.

