BERITA TERKINI
Harga CPO Global Diperkirakan Bertahan Tinggi hingga Kuartal II 2026, Dipicu Gangguan Pasokan dan Konflik Asia Barat

Harga CPO Global Diperkirakan Bertahan Tinggi hingga Kuartal II 2026, Dipicu Gangguan Pasokan dan Konflik Asia Barat

KUALA LUMPUR — Harga crude palm oil (CPO) global diperkirakan tetap berada di level tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Proyeksi ini didorong oleh gangguan pasokan jangka pendek serta dinamika geopolitik global, terutama konflik di kawasan Asia Barat.

Analis Hong Leong Investment Bank (HLIB) memperkirakan harga CPO pada 2 April 2026 akan naik menjadi RM4.350 per ton, atau meningkat sekitar RM150 per ton. Memasuki kuartal II 2026, HLIB menilai harga masih akan kuat di kisaran RM4.500 hingga RM4.600 per ton.

Untuk jangka lebih panjang, HLIB mempertahankan asumsi harga CPO di level RM4.200 per ton mulai 2027, seiring normalisasi pasokan yang dinilai terjadi secara bertahap.

HLIB juga menilai kenaikan harga CPO berpotensi berdampak langsung pada kinerja emiten perkebunan. Setiap kenaikan RM100 per ton, menurut mereka, dapat meningkatkan proyeksi laba perusahaan perkebunan sekitar 3 hingga 8 persen.

Menurut HLIB, konflik di Asia Barat memberi efek berlapis terhadap pasar, termasuk melalui jalur energi dan pasokan. Situasi tersebut disebut memicu “guncangan multi-saluran” yang mendorong harga CPO melalui permintaan terkait energi serta ketatnya pasokan dalam jangka pendek.

Di sisi lain, HLIB mencatat kenaikan harga pupuk dapat mendorong petani beralih ke komoditas lain seperti kedelai, yang berpotensi menahan kenaikan harga dalam jangka menengah. Gangguan logistik juga dinilai turut menambah premi sementara pada harga.

HLIB menambahkan, CPO memiliki keterkaitan erat dengan pasar energi global dan kerap menjadi indikator pergerakan harga minyak mentah. Saat harga minyak mentah meningkat, ekonomi biodiesel dinilai menguat, permintaan minyak nabati naik, dan peran CPO sebagai indikator pasar energi menjadi lebih menonjol. Dengan pertimbangan itu, HLIB mempertahankan rekomendasi “Overweight” untuk sektor perkebunan, terutama bagi perusahaan hulu yang dinilai memiliki efisiensi biaya dan visibilitas margin yang kuat.

Sementara itu, analis RHB Investment Bank mencatat harga CPO telah melonjak sekitar 19 persen sejak awal konflik Asia Barat, dengan rata-rata tahunan mencapai RM4.188 per ton. Kenaikan tersebut disebut sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global yang naik hingga 46 persen.

RHB menilai dampak terbesar dari kondisi ini adalah potensi peningkatan mandat biodiesel, baik di Indonesia maupun secara global. Di Malaysia, wacana penerapan kembali mandat biodiesel B20 juga mulai mencuat. Kebijakan ini disebut berpotensi lebih murah sekitar 20 sen per liter dibandingkan harga pasar saat ini.

Saat ini, mandat B10 di Malaysia menyerap sekitar 1,3–1,4 juta ton CPO. Jika B20 diterapkan, kebutuhan tersebut diperkirakan akan meningkat hingga dua kali lipat.

Namun, pergerakan harga jangka pendek tetap menunjukkan fluktuasi. Pada 1 April 2026, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah mengikuti penurunan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade. Trader Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, memperkirakan harga akan mendapat dukungan di atas RM4.700 per ton dengan resistensi di RM4.850 per ton.

Pada penutupan perdagangan, kontrak Juni turun RM59 menjadi RM4.769 per ton, Juli melemah ke RM4.770 per ton, Agustus turun ke RM4.745 per ton, dan September menjadi RM4.711 per ton. Volume perdagangan meningkat menjadi 172.873 lot dari sebelumnya 109.419 lot, sementara open interest naik menjadi 252.970 kontrak. Adapun harga fisik CPO untuk April South tercatat turun RM30 menjadi RM4.720 per ton.