JAKARTA — Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus level tertinggi sejak krisis finansial 2008, seiring gangguan pasokan energi global yang dipicu hambatan distribusi di jalur perdagangan utama.
Data S&P Global menunjukkan harga spot minyak mentah Brent untuk pengiriman fisik mencapai 141,36 dolar AS per barel pada Kamis. Mengutip CNBC, Jumat (3/4/2026), harga spot menggambarkan permintaan minyak untuk pengiriman dalam waktu dekat, sekitar 10 hingga 30 hari ke depan.
Kenaikan tajam pada harga pengiriman cepat ini mencerminkan semakin ketatnya pasokan minyak fisik di pasar global. Salah satu pemicu utama kondisi tersebut adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi energi dunia.
Perbedaan mencolok juga terjadi antara harga spot dan kontrak berjangka (futures). Harga spot tercatat sekitar 32,33 dolar AS lebih tinggi dibandingkan kontrak futures Brent untuk pengiriman Juni yang berada di kisaran 109,03 dolar AS per barel.
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga di pasar berjangka belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, harga futures justru memberi kesan situasi masih relatif terkendali, padahal tekanan terhadap pasokan fisik sudah sangat terasa.
Sen menyebut ketegangan di pasar energi saat ini nyata, namun belum sepenuhnya tercermin dalam indikator finansial. Dampaknya mulai terlihat di berbagai sektor, termasuk kenaikan harga solar di Eropa yang mendekati 200 dolar AS per barel.
Sementara itu, CEO Chevron Mike Wirth juga mengingatkan bahwa harga futures belum sepenuhnya menggambarkan dampak gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. Ia menilai pergerakan pasar saat ini masih dipengaruhi keterbatasan informasi serta persepsi pelaku pasar.
Wirth menambahkan, dampak fisik dari terganggunya jalur distribusi energi telah menyebar secara global dan memengaruhi sistem energi dunia, meski belum sepenuhnya tercermin dalam pergerakan harga di pasar berjangka.

