Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak hingga ke aktivitas perdagangan di pasar tradisional Pangkalpinang. Sejumlah pedagang plastik mengeluhkan kenaikan harga modal yang dipicu lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS.
Dedi, pemilik Toko Plastik Kiki di Pasar Ratu Tunggal, mengatakan kondisi pasar yang tidak menentu membuat pelaku usaha harus lebih berhati-hati mengelola persediaan. Ia menilai kenaikan harga plastik saat ini berkaitan erat dengan ketergantungan bahan baku impor yang berbasis minyak bumi.
Menurut Dedi, situasi global, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, ikut mendorong naiknya harga. “Plastik ini bahan bakunya dari minyak. Kita sangat tergantung dengan Timur Tengah. Masalahnya, kita belinya ke Amerika dan pakainya dolar. Sekarang dolar tinggi, harga minyak tinggi, kena double hit kita,” ujarnya saat ditemui di tokonya, Senin (6/4/2026).
Ia menambahkan, meski Indonesia memiliki banyak pabrik plastik, sebagian besar masih mengolah bahan setengah jadi karena bahan baku utama tetap harus diimpor. Dedi juga menyinggung gangguan di Selat Hormuz yang disebutnya membuat harga minyak melonjak hingga 110 per barel dan berimbas pada harga plastik.
Di tengah kenaikan harga modal, Dedi memilih membatasi stok barang. Selain pengiriman dari Jakarta ke Bangka yang memakan waktu, ia menilai fluktuasi harga yang cepat berisiko terhadap perputaran modal usaha.
Untuk harga jual di tingkat pedagang, Dedi menyebut kisarannya saat ini berada di rentang Rp10.000 hingga Rp15.000 per bungkus, tergantung jenis dan ukuran. Produk yang paling banyak dicari antara lain kantong asoy, plastik pembungkus makanan, serta bungkus gula untuk kebutuhan rumah tangga dan warung.
Dedi juga menepis anggapan bahwa pedagang selalu meraup untung besar ketika harga naik dengan memanfaatkan stok lama. Menurutnya, perubahan harga yang cepat justru menuntut pedagang lebih cermat agar modal tidak tergerus.

