BERITA TERKINI
Henri Shalahuddin: Indonesia Perlu Sikap Berimbang Hadapi Konflik Iran–Israel–AS

Henri Shalahuddin: Indonesia Perlu Sikap Berimbang Hadapi Konflik Iran–Israel–AS

Jakarta, Kamis (02/04/2026) — Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Henri Shalahuddin, mengingatkan pentingnya sikap hati-hati dan berimbang bagi Indonesia dalam merespons dinamika konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Pernyataan itu disampaikan Henri usai menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Melarang Bersimpati untuk Iran dalam Perang Melawan Israel–US: Apa Kata Ibn Taimiyyah” yang digelar di Aula Imam Al-Ghazali INSISTS, Jakarta.

Dalam keterangannya, Henri menyoroti praktik standar ganda (double standard) yang menurutnya kerap dilakukan Amerika Serikat dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM). Ia menilai, sebagai negara adidaya, Amerika sering mengklaim diri sebagai penjaga nilai-nilai HAM, namun tidak selalu menerapkan prinsip tersebut secara adil terhadap negara lain.

“Amerika sebagai super power memiliki standar ganda yang sangat kuat. Mereka berbicara HAM, tetapi dalam praktiknya tidak selalu menjalankan prinsip tersebut, terutama terhadap negara-negara yang lebih lemah,” ujar Henri.

Henri juga menilai posisi Indonesia selama ini sudah tepat dengan tidak berpihak pada blok Barat maupun Timur. Ia menekankan pentingnya menjaga prinsip politik luar negeri bebas aktif.

“Indonesia sudah berada di jalur yang benar, tidak masuk blok mana pun. Prinsipnya jelas: berteman dengan sebanyak mungkin negara dan meminimalisir musuh,” tambahnya.

Ia menekankan kehati-hatian dalam pengambilan kebijakan strategis di tengah tekanan global. Menurutnya, keputusan pemimpin negara tidak semestinya didasarkan pada dorongan emosional atau opini publik yang tidak terverifikasi.

“Seorang pemimpin memikul tanggung jawab besar atas ratusan juta rakyatnya. Kebijakan tidak boleh diambil secara reaktif, apalagi hanya berdasarkan tekanan yang tidak jelas,” tegasnya.

Dalam konteks konflik global, Henri turut menyinggung peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terutama terkait perlindungan terhadap pasukan perdamaian Indonesia. Ia menilai Indonesia berhak meminta kejelasan tanggung jawab atas insiden yang menimpa prajurit TNI dalam misi internasional.

“Indonesia mengirim pasukan di bawah mandat PBB, artinya ada tanggung jawab perlindungan. Ketika terjadi insiden, PBB harus memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban,” ujarnya.

Terkait konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, Henri berpandangan dukungan negara-negara Timur Tengah terhadap pihak tertentu tidak semata-mata dipengaruhi faktor agama. Ia menilai pertimbangan utama lebih terkait kepentingan geopolitik dan keamanan nasional.

“Dukungan negara-negara kawasan terhadap pihak tertentu lebih didorong oleh pertimbangan keamanan dan tekanan global, bukan semata faktor agama,” jelasnya.

Henri juga menilai Iran menunjukkan ketahanan dan kemandirian yang patut dicermati, terutama dalam menghadapi tekanan selama puluhan tahun. Menurutnya, stabilitas sistem pemerintahan menjadi salah satu faktor yang menopang kekuatan tersebut.

“Keberanian dan kemandirian Iran, meski dalam tekanan panjang, menunjukkan adanya sistem yang stabil. Ini menjadi pelajaran penting dalam perencanaan jangka panjang sebuah negara,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Henri mengingatkan bahwa momentum konflik global saat ini dapat menjadi bahan refleksi bagi Indonesia untuk memperkuat strategi nasional tanpa terjebak dalam kepentingan kekuatan besar dunia.

“Ini momen penting untuk berpikir ulang dan memperkuat posisi Indonesia agar tetap mandiri, tanpa terjebak dalam tekanan negara-negara super power,” pungkasnya.