Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mengajak pemerintah dan masyarakat memperkuat langkah penghematan energi untuk menjaga kestabilan pasokan di tengah krisis energi global. Seruan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang disebut dipicu perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
“Hemat energi itu bukan soal perubahan besar yang sulit dilakukan, melainkan kebiasaan kecil yang konsisten,” tulis IEA dalam laman resminya, dikutip dari Jakarta, Jumat (3/4).
IEA menekankan, efisiensi dapat dimulai dari aktivitas sehari-hari yang kerap dianggap sepele, seperti mematikan lampu saat ruangan tidak digunakan dan mencabut charger yang masih terpasang. Kebiasaan sederhana ini dinilai dapat berdampak pada pengurangan konsumsi energi secara keseluruhan.
Dalam penggunaan pendingin ruangan, IEA menyarankan masyarakat mematikan AC saat tidak dipakai, memastikan pintu dan jendela tertutup rapat ketika AC menyala, serta menggunakan tirai tebal agar suhu ruangan lebih stabil. Selain itu, IEA juga mendorong penggantian lampu lama dengan lampu LED.
Untuk kebutuhan rumah tangga lainnya, IEA mengingatkan agar pemanas air diatur sesuai kebutuhan dan tidak dibiarkan menyala sepanjang hari. Di sektor transportasi, IEA menilai cara berkendara juga berpengaruh pada konsumsi bahan bakar. “Berkendara dengan stabil, tidak ngebut, dan menghindari akselerasi mendadak bisa membuat bahan bakar lebih awet,” tulis IEA.
IEA turut menyarankan masyarakat mengandalkan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki apabila memungkinkan sebagai bagian dari upaya penghematan energi.
Di Indonesia, dorongan penghematan energi sebelumnya disampaikan dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3). Presiden Prabowo Subianto mendorong penghematan konsumsi BBM serta mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai langkah antisipasi dampak krisis global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengajak masyarakat membiasakan perilaku hemat energi, baik di rumah maupun di tempat kerja. Masyarakat pun dianjurkan memprioritaskan transportasi publik untuk aktivitas sehari-hari dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.
Sejumlah negara lain telah mengumumkan kebijakan penghematan energi sebagai respons atas ketidakpastian global. Thailand, misalnya, meminta pegawai negeri bekerja dari rumah untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar, membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta mengatur suhu pendingin ruangan pada kisaran 26–27 derajat Celsius.

