Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mendukung langkah pemerintah yang mengajak masyarakat melakukan penghematan konsumsi energi guna menjaga kestabilan pasokan di tengah krisis energi global yang dipicu perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran.
Dalam pernyataan di laman resminya yang dikutip dari Jakarta, Jumat, IEA menekankan bahwa penghematan energi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Hemat energi itu bukan soal perubahan besar yang sulit dilakukan, melainkan kebiasaan kecil yang konsisten,” tulis IEA.
IEA menyarankan sejumlah langkah praktis, seperti mematikan pendingin ruangan (AC) saat tidak digunakan, memastikan pintu dan jendela tertutup rapat ketika AC menyala, serta menggunakan tirai tebal untuk membantu menjaga suhu ruangan tetap stabil.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan mengganti lampu lama dengan lampu LED, mengatur pemanas air sesuai kebutuhan dan tidak membiarkannya menyala sepanjang hari, serta menerapkan cara berkendara yang lebih bijak. IEA menilai berkendara dengan kecepatan stabil, tidak ngebut, dan menghindari akselerasi mendadak dapat membuat bahan bakar lebih awet.
IEA turut mendorong penggunaan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki apabila memungkinkan sebagai bagian dari upaya penghematan energi.
Sebelumnya, dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3), Presiden Prabowo Subianto mendorong langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai antisipasi dampak krisis global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengajak masyarakat membiasakan perilaku hemat energi, baik di rumah maupun di tempat kerja. Masyarakat pun dianjurkan memprioritaskan transportasi publik untuk aktivitas sehari-hari dibandingkan kendaraan pribadi.
Di tingkat internasional, sejumlah negara telah mengumumkan kebijakan penghematan energi sebagai respons atas ketidakpastian global. Thailand, misalnya, meminta pegawai negeri bekerja dari rumah untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar, membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta mengatur suhu pendingin ruangan pada kisaran 26–27 derajat Celsius.
Filipina menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan di sektor publik, sementara Pakistan menyiapkan rencana penghematan energi melalui pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah.

