Jakarta — Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah yang mengajak masyarakat menghemat konsumsi energi guna menjaga kestabilan pasokan di tengah krisis energi global.
Dalam pernyataan di laman resminya yang dikutip di Jakarta, Jumat, IEA menekankan bahwa penghematan energi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. “Hemat energi itu bukan soal perubahan besar yang sulit dilakukan, melainkan kebiasaan kecil yang konsisten,” tulis IEA.
IEA menyarankan sejumlah langkah praktis, antara lain mematikan pendingin ruangan (AC) saat tidak digunakan, memastikan pintu dan jendela tertutup rapat ketika AC menyala, serta menggunakan tirai tebal untuk membantu menjaga suhu ruangan tetap stabil.
Selain itu, IEA menganjurkan penggantian lampu lama dengan lampu LED, serta mengatur pemanas air sesuai kebutuhan dengan tidak membiarkannya menyala sepanjang hari. Di sektor transportasi, IEA mengingatkan pentingnya berkendara secara bijak. “Berkendara dengan stabil, tidak ngebut, dan menghindari akselerasi mendadak bisa membuat bahan bakar lebih awet,” tulis IEA.
IEA juga menyarankan masyarakat memanfaatkan transportasi umum, bersepeda, atau berjalan kaki apabila memungkinkan.
Sebelumnya, dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3), Presiden Prabowo Subianto mendorong penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) serta mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai langkah antisipasi dampak krisis global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto turut mengajak masyarakat membiasakan perilaku hemat energi, baik di rumah maupun di tempat kerja. Masyarakat juga dianjurkan memprioritaskan transportasi publik untuk aktivitas sehari-hari dibandingkan kendaraan pribadi.
Sejumlah negara lain juga mengumumkan kebijakan penghematan energi sebagai respons terhadap ketidakpastian global. Thailand, misalnya, meminta pegawai negeri bekerja dari rumah untuk mengurangi konsumsi listrik dan bahan bakar, membatasi penggunaan lift dan eskalator, serta mengatur suhu pendingin ruangan pada kisaran 26–27 derajat Celsius.
Filipina menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan di sektor publik, sementara Pakistan menyiapkan rencana penghematan energi melalui pembelajaran jarak jauh dan pengaturan kerja dari rumah.

