JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadapi tekanan berlapis pada awal 2026. Setelah sentimen domestik terkait isu MSCI menekan kepercayaan pasar, eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel turut memperburuk sentimen global, mendorong investor bersikap lebih hati-hati.
Hingga 2 April 2026, IHSG tercatat terkoreksi sekitar 1.620 poin atau 18,74 persen. Penurunan tersebut mencerminkan perubahan sikap investor dari kondisi yang sebelumnya lebih optimistis menjadi cenderung menghindari risiko (risk-off), seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pada perdagangan Kamis (2/4) sore, IHSG ditutup melemah 157,66 poin atau 2,19 persen ke posisi 7.026,78. Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga turun 12,21 poin atau 1,68 persen ke posisi 714,58.
Sebagai pembanding, pada 30 Desember 2025—hari terakhir perdagangan bursa tahun 2025—IHSG ditutup menguat 2,68 poin atau 0,03 persen ke posisi 8.646,94. Sementara itu, indeks LQ45 pada penutupan tersebut turun 5,47 poin atau 0,64 persen ke posisi 846,57.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut pelemahan bursa Asia terjadi seiring kembalinya kehati-hatian investor setelah pidato nasional Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak memberikan kejelasan mengenai waktu penyelesaian konflik di Timur Tengah. “Bursa Asia didominasi pelemahan, seiring kembalinya kehati-hatian investor setelah pidato utama Presiden AS Donald Trump yang tidak memberikan kejelasan mengenai waktu penyelesaian konflik di Timur Tengah,” ujarnya dalam kajian di Jakarta, Kamis (3/4).
Dari luar negeri, meski Trump menyatakan operasi AS hampir selesai, ia juga menegaskan kemungkinan langkah yang lebih agresif, termasuk potensi serangan terhadap pembangkit listrik dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Situasi tersebut menambah ketidakpastian pasar dan memperkuat kecenderungan investor global untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama di negara berkembang, dan beralih ke instrumen yang dinilai lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Selain itu, ketegangan di Timur Tengah turut memunculkan kekhawatiran terkait energi, termasuk risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan strategis seperti Selat Hormuz. Kekhawatiran ini dinilai berimplikasi pada inflasi global, biaya produksi, serta kinerja emiten, sehingga menambah tekanan pada pasar saham.
Dari dalam negeri, IHSG juga disebut melemah seiring pergerakan bursa Asia, ditambah faktor data ekspor yang lesu serta pertumbuhan impor yang solid. Dengan kombinasi sentimen global dan domestik yang bertemu pada periode yang sama, tekanan pada IHSG dinilai bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan cerminan tingginya ketidakpastian yang masih membayangi pasar.
Ke depan, perhatian pelaku pasar tidak hanya tertuju pada peluang pemulihan, tetapi juga pada kemampuan pasar menemukan pijakan di tengah dinamika geopolitik dan sentimen domestik yang masih dapat berubah cepat.

