Jakarta, April 2026 — Indonesia dan Prefektur Shizuoka, Jepang, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama perlindungan dan konservasi satwa liar pada 28 Maret 2026. Kesepakatan ini berfokus pada program breeding loan komodo (Varanus komodoensis) sebagai bagian dari agenda diplomasi hijau kedua pihak.
MoU tersebut ditandatangani Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Gubernur Shizuoka Suzuki Yasutomo. Melalui kerja sama ini, Indonesia akan meminjamkan komodo untuk program pengembangbiakan di iZoo Kawazu, yang disebut sebagai kebun binatang reptil dan amfibia terbesar di Jepang. Program itu ditujukan untuk memperkuat populasi satwa endemik yang rentan punah sekaligus memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia kepada masyarakat Jepang.
“Komodo adalah salah satu binatang flagship yang ada di Indonesia, di antara banyak satwa-satwa lain seperti gajah dan harimau,” ujar Raja Juli Antoni. Ia menyebut kerja sama ini sebagai bagian dari diplomasi hijau, dengan harapan kedua pihak dapat berbagi tanggung jawab dalam upaya menjaga hutan, konservasi, dan keanekaragaman hayati.
Selain program breeding loan, pembicaraan juga mencakup rencana pengembangan kerja sama sister park antara Taman Nasional Fuji-Hakone-Izu di Jepang dan kawasan konservasi di Indonesia. Raja Juli Antoni menyampaikan harapannya agar Gunung Fuji dapat dijajaki untuk dipasangkan sebagai sister park dengan gunung di Indonesia, serta menyatakan rencana kunjungan kembali untuk mempelajari pengelolaan taman nasional yang berjalan selaras dengan industrialisasi.
Gubernur Suzuki Yasutomo menyambut positif kerja sama tersebut. “Karena komodo merupakan satwa liar yang terancam punah, kami sangat senang dapat berkontribusi untuk mengembangbiakkannya,” katanya setelah penandatanganan.
Dalam pertemuan dengan perwakilan Pemerintah Jepang untuk memperkuat kerja sama pengelolaan kawasan konservasi, hadir Shichimeko Shuici selaku Director Fuji-Hakone-Izu National Park serta Ikuo Yamada dari kantor Kerjasama Internasional Kementerian Lingkungan Hidup Jepang. Dalam diskusi itu, Kementerian Kehutanan menyampaikan inisiatif sister park dengan sejumlah alternatif taman nasional di Indonesia yang dinilai memiliki karakteristik ekosistem serupa, yakni Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan Taman Nasional Gunung Rinjani.
Kerja sama sister park diharapkan meningkatkan kualitas pengelolaan taman nasional melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam konservasi serta pengembangan ekowisata. Usulan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat posisi taman nasional Indonesia di tingkat global. Pihak Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menyatakan dukungan dan mendorong tindak lanjut melalui penyelenggaraan technical workshop guna membahas aspek teknis kerja sama secara lebih mendalam.
MoU breeding loan komodo dan rencana pengembangan sister park ini disebut menjadi bagian program Kementerian Kehutanan untuk memperkuat hubungan Indonesia-Jepang dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang.
Komodo merupakan satwa endemik Indonesia yang berstatus endangered menurut IUCN sejak 2021 dan masih hidup terutama di habitatnya di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Dalam laporan tersebut, para peneliti memperkirakan jumlah komodo sekitar 3.300 ekor di dunia, dengan ancaman antara lain kerusakan dan fragmentasi habitat, inbreeding, kompetisi pakan dengan manusia, perubahan iklim, perdagangan ilegal, hingga penyakit zoonotik. Peneliti Universitas Gadjah Mada, Aji Winarso, menilai konservasi komodo bukan semata penyelamatan satu spesies langka, melainkan juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem, kesehatan manusia, dan identitas bangsa.
Kerja sama dengan Jepang ini juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Proyek IN-FLORES, sebuah inisiatif yang didukung Kementerian Kehutanan, Global Environment Facility (GEF), dan UNDP Indonesia dengan anggaran USD 46,7 juta. Proyek tersebut berfokus melindungi komodo dan spesies terancam lain di Taman Nasional Komodo serta wilayah Flores sekitarnya melalui penguatan tata kelola kawasan, pemantauan biodiversitas, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pengembangan ekowisata berbasis komunitas.
Raja Juli Antoni menyatakan kerja sama ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi lanjutan. Ia juga menyampaikan harapan bahwa keberadaan komodo di iZoo dapat mendorong masyarakat Jepang berkunjung ke habitat aslinya di Flores, yang pada gilirannya dapat berdampak pada pendapatan masyarakat serta mendukung pemantauan dan patroli habitat.

