BERITA TERKINI
IPB University Dorong Teknologi Biointensif untuk Tekan Dampak Krisis Timur Tengah pada Pertanian

IPB University Dorong Teknologi Biointensif untuk Tekan Dampak Krisis Timur Tengah pada Pertanian

BOGOR — IPB University menawarkan pendekatan teknologi biointensif sebagai solusi strategis untuk menghadapi dampak krisis di kawasan Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan mengganggu sektor pertanian global. Gagasan ini disampaikan dalam konferensi pers bertajuk “Adaptasi Petani Nusantara Menghadapi Dampak Perang di Timur Tengah” yang digelar di Bogor.

Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Ivanovic Agusta, menjelaskan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah berdampak langsung pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global. Kondisi tersebut kemudian menekan biaya produksi pertanian.

Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Suryo Wiyono, menyoroti gangguan pada rantai pasok pupuk dunia. Menurutnya, kawasan Teluk merupakan produsen utama pupuk nitrogen global, sehingga terganggunya pasokan gas alam (LNG) berimbas pada produksi pupuk.

Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku pupuk. Sebagian besar bahan baku fosfor disebut berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini menghadapi risiko geopolitik serta kenaikan biaya distribusi.

Krisis tersebut memicu kenaikan signifikan pada harga input pertanian. Harga pupuk nitrogen global dilaporkan meningkat lebih dari 30 persen, sementara harga pestisida diperkirakan naik hingga 30 persen. Kenaikan harga BBM juga meningkatkan biaya operasional, mulai dari transportasi hingga penggunaan alat mesin pertanian, yang berdampak pada penurunan margin keuntungan petani.

Dampak lain terlihat pada pasar ekspor. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi yang selama ini menjadi tujuan ekspor utama buah Indonesia disebut mengalami gangguan perdagangan.

Merespons situasi tersebut, IPB University menawarkan teknologi biointensif yang dinilai lebih efisien dan berkelanjutan. Prof Suryo menyatakan metode ini dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 30 persen, menekan penggunaan pestisida hingga 70 persen, serta meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban biaya.

Pendekatan biointensif mengedepankan pemanfaatan sumber daya lokal, termasuk mikroorganisme tanah, pupuk organik, serta sistem tanam seperti rotasi dan tumpang sari. Sejumlah kelebihan yang disebutkan antara lain efisiensi penggunaan input pertanian, berbasis ekologi dan ramah lingkungan, lebih tahan terhadap stres iklim dan krisis energi, memiliki jejak karbon rendah, serta mengandalkan bahan baku lokal dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) tinggi.

Dalam praktiknya, teknologi ini mengintegrasikan kesehatan tanah, mikroba, dan tanaman untuk menghasilkan produktivitas yang stabil dan berkelanjutan. Hasil uji coba di berbagai daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, hingga Bojonegoro menunjukkan metode biointensif mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24 persen. Selain itu, biaya produksi disebut dapat ditekan sekitar 20 persen sehingga dinilai lebih menguntungkan dibanding metode konvensional.

IPB University juga mendorong penguatan ekonomi berbasis komunitas melalui inovasi teknologi ramah lingkungan, pengembangan pasar lokal, serta pemanfaatan energi terbarukan seperti biogas, panel surya, dan biomassa. Dengan berbagai keunggulan tersebut, teknologi biointensif dinilai dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global yang terus berkembang.