Sebuah kapal tanker yang disewa Petronas dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia, di tengah memanasnya situasi konflik di Timur Tengah. Informasi tersebut diumumkan Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui media sosial.
Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Iran menyebut Iran tidak melupakan negara yang dianggap sebagai teman. Mereka juga menyampaikan bahwa kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz.
Kapal bernama Ocean Thunder diketahui mengangkut sekitar satu juta barel minyak mentah Basrah Heavy dari Irak sejak 2 Maret. Kapal itu dijadwalkan melakukan bongkar muatan di Pengerang, Johor, pada pertengahan April. Pelayaran tersebut terjadi sehari setelah Iran menyatakan Irak dikecualikan dari kebijakan pembatasan di Selat Hormuz.
Izin khusus untuk kapal terkait Malaysia
Ocean Thunder disebut sebagai bagian dari tujuh kapal terkait Malaysia yang memperoleh izin khusus dari Iran untuk melintas. Selain Petronas, perusahaan lain yang masuk dalam daftar tersebut antara lain Vantris Energy dan MISC.
Sejumlah pejabat Malaysia mengaitkan kelancaran pelayaran itu dengan hubungan diplomatik kedua negara. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas pemberian izin. Menteri Transportasi Malaysia Anthony Loke juga menyebutnya sebagai hasil dari “hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran”.
Negara lain melakukan komunikasi dengan Iran
Selain Malaysia, beberapa negara disebut menjalin komunikasi intensif dengan Iran untuk menjaga jalur energi mereka tetap aman. Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro menyatakan negaranya telah memperoleh jaminan dari Iran terkait pelintasan yang “aman, tanpa hambatan, dan cepat”, setelah melakukan percakapan telepon yang ia sebut sangat produktif dengan Teheran.
Filipina memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 98% impor minyak berasal dari kawasan tersebut. Lonjakan harga energi akibat konflik juga disebut telah mendorong Filipina menetapkan status darurat energi nasional.
Pakistan dan India juga dilaporkan menerima sinyal positif. Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar menyebut langkah Iran sebagai “isyarat yang positif dan konstruktif”. Sementara terkait India, muncul pernyataan yang menyebut, “Teman-teman India kami berada di tangan yang aman, tidak perlu khawatir.”
Iran tegaskan akses tidak berlaku untuk semua pihak
Meski memberi akses kepada sejumlah negara, Iran menegaskan Selat Hormuz tidak sepenuhnya dibuka untuk semua pihak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negara-negara yang dianggap musuh tidak akan diizinkan melintas.
“Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya,” kata Araghchi.
Pernyataan itu menunjukkan Iran menerapkan kebijakan selektif berdasarkan posisi politik negara dalam konflik yang berlangsung.
Upaya Indonesia masih berlangsung
Di sisi lain, Indonesia masih berupaya memastikan keselamatan kapal-kapalnya. Melalui Pertamina International Shipping (PIS), pemerintah disebut terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri.
Perwakilan PIS, Vega Pita, menyatakan PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar dua kapal, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Ia menambahkan, upaya diplomasi tersebut masih terus berjalan.
Ketidakpastian masih membayangi
Meski sejumlah negara berhasil mendapatkan akses, ketidakpastian masih menyelimuti jalur strategis tersebut. Belum ada kejelasan mengenai syarat yang harus dipenuhi kapal-kapal untuk melintas, termasuk kemungkinan adanya biaya tertentu.
Situasi juga disebut semakin rumit setelah muncul ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana menyerang infrastruktur Iran jika akses Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya. Para analis menilai kesepakatan yang terjadi saat ini merupakan terobosan diplomatik, namun belum menjadi solusi jangka panjang karena stabilitas jalur energi global masih bergantung pada perkembangan konflik dan keberlanjutan diplomasi antarnegara.

