Budaya minum jamu di Yogyakarta dinilai memiliki potensi untuk diperkenalkan ke mata dunia sebagai bagian dari diplomasi budaya. Selain sebagai warisan tradisional yang identik dengan perawatan tubuh dan kesehatan, jamu juga dipandang dapat menggerakkan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat komitmen lintas generasi agar jamu menjadi gaya hidup sehat.
Penasehat Dewan Jamu, Tazbir Abdullah, S.H., M.Hum., menekankan pentingnya edukasi dan promosi jamu secara lebih luas. Ia menyebut Yogyakarta sebagai kota wisata budaya yang perlu menguatkan kebanggaan terhadap tradisi minum jamu, terutama di kalangan anak muda dan masyarakat umum.
“Edukasi, mempromosikan, dan mempresentasikan di berbagai aspek, diketahui Jogja sebagai kota wisata budaya minum jamu harus digalakan dan ditanamkan rasa bangga kepada anak muda maupun masyarakat luas baik di pameran UMKM, hotel, kampus, dan tempat strategis lainnya,” ujar Tazbir dalam siaran Ngobras Pro1 RRI Yogyakarta, Minggu, 5 April 2026.
Upaya pengembangan jamu juga diarahkan pada peningkatan kapasitas para peramu jamu. Menurut keterangan yang disampaikan dalam kesempatan itu, para peramu perlu diberi ruang dan pelatihan agar taraf hidup serta kesejahteraan ekonomi meningkat. Dukungan dari pemerintah daerah dan sektor swasta dinilai penting untuk mendorong jamu “naik kelas” dan menjadi identitas Yogyakarta.
Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, SE, MA, Sp. KKLP, AAK, Pengurus Dewan Jamu Indonesia cabang Yogyakarta, menyampaikan bahwa jamu tidak hanya terkait pengobatan dan penyembuhan, tetapi juga memiliki peran dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan.
Ia menambahkan, upaya meningkatkan kesehatan dan mencegah berbagai penyakit melalui jamu disebut telah terbukti. Bondan juga menyinggung keberadaan fitofarmaka, yakni jamu atau obat bahan alam yang khasiat dan keamanannya telah teruji secara klinis pada manusia serta praklinik pada hewan, sehingga dipandang setara dengan obat modern karena standar pembuatan yang tinggi dan pembuktian ilmiah.
Sementara itu, Ketua Jogja Husada Sehat, Nina Rahayu Purnomo, berpesan agar masyarakat memandang sehat sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Ia menilai jamu dapat menjadi pilihan di era modern, termasuk melalui racikan dan kemasan yang lebih menarik sehingga bisa dinikmati berbagai lapisan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, jamu juga disebut dapat berperan sebagai immune booster.

