Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mempercepat pengembangan energi alternatif sebagai respons atas eskalasi konflik di Timur Tengah yang dinilai berdampak pada sektor energi global. Langkah ini juga diarahkan untuk mendorong efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, Agus Sugiharto, mengatakan salah satu fokus utama adalah mendorong pengolahan sampah menjadi energi melalui teknologi pirolisis dan bioetanol. Ia menilai perlu adanya regulasi agar masyarakat dan pengelola sampah dapat berkontribusi dalam pengelolaan energi berbasis limbah.
“Kami sedang mendiskusikan dengan perguruan tinggi. Juga kemarin dengan Pak Menteri, Pak Dirjen Migas, dan Menteri SDM,” ujar Agus, Kamis, 2 April 2026.
Agus menjelaskan, pengolahan sampah plastik melalui pirolisis dapat menghasilkan bahan bakar seperti solar dan bensin. Sementara itu, limbah organik, termasuk dari pasar, berpotensi diolah menjadi bioetanol sebagai alternatif energi terbarukan.
Menurutnya, regulasi yang mendukung perlu disusun agar tidak menyulitkan, sehingga kelompok pemerhati lingkungan maupun pengelola sampah dapat berperan lebih besar. “Pengolahan itu perlu dibuat regulasi yang tidak terlalu sulit sehingga nanti masyarakat atau kelompok-kelompok pemerhati lingkungan dan pengelola-pengelola sampah ini bisa memberikan kontribusi yang cukup signifikan di dalam penyelesaian masalah sampah dari hulu menjadi energi baik itu solar, bensin maupun bioetanol,” tuturnya.
Selain pengolahan sampah, sektor peternakan juga didorong memanfaatkan limbah kotoran ternak sebagai sumber energi melalui teknologi digester. Melalui proses ini, limbah dapat diubah menjadi biogas yang dapat menggantikan LPG, terutama di wilayah pedesaan.
Agus menambahkan, proses tersebut tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menghasilkan pupuk organik. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat. “Kotoran-kotoran ternak itu bisa dimanfaatkan melalui digester, kemudian limbah-limbah hasil pengelolaan kegiatan industri tahu itu bisa dimanfaatkan untuk biogas... nanti dimasukkan digester, dilakukan gasifikasi keluar gas limbahnya tadi sudah bagus sudah tidak bau dan bisa dijadikan pupuk cair juga,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mengoptimalkan potensi energi di sekitar mereka. Agus mengajak berbagai lapisan, mulai dari akademisi, organisasi masyarakat, hingga kelompok pemuda, untuk terlibat aktif dalam pengembangan energi berbasis limbah.
Menurutnya, pemanfaatan limbah menjadi energi tidak hanya mengurangi beban sampah, tetapi juga mendorong kemandirian energi serta membuka peluang ekonomi baru berbasis sumber daya lokal. Program Desa Mandiri Energi disebut menjadi salah satu strategi yang terus digencarkan.
“Desa Mandiri Energi itu justru kita sudah galakkan lama di mana mulai kita melakukan inventarisasi terhadap potensi yang ada di desa. Misalkan terhadap saluran irigasi atau sungai-sungai yang bisa dimanfaatkan untuk PLTM pembangkit listrik tenaga mini hidro maupun PLTMH pembangkit listrik tenaga mikrohidro,” tuturnya.
Pemerintah berharap percepatan energi alternatif ini dapat memperkuat ketahanan energi daerah sekaligus menjaga lingkungan. Dengan kolaborasi berbagai pihak, transformasi limbah menjadi energi diharapkan menjadi solusi berkelanjutan bagi Jawa Tengah.

