Harga sejumlah logam dasar mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir yang lebih banyak dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi kekurangan pasokan global komoditas mineral.
Rizal Kasli, Ketua Badan Keahlian Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), menjelaskan bahwa tekanan pasokan terjadi karena penurunan produksi dari beberapa negara produsen utama, sementara permintaan terus meningkat. Kenaikan permintaan ini terutama didorong oleh kebutuhan pada sektor teknologi kecerdasan buatan (AI), kendaraan listrik (EV), dan energi baru terbarukan (EBT).
"Reli harga komoditas tambang yang terjadi akhir-akhir ini lebih banyak disebabkan oleh kekhawatiran short supply di pasar akibat beberapa faktor, seperti menurunnya produksi dari beberapa negara produsen utama terhadap beberapa komoditas," ujar Rizal pada Selasa (20/1/2026).
Pasar juga mengantisipasi penurunan suplai nikel setelah pemerintah Indonesia mengumumkan rencana pemangkasan kuota produksi nasional. Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas batu bara yang menghadapi tekanan pasokan.
Selain itu, gangguan pasokan emas turut berkontribusi terhadap dinamika pasar. Hal ini disebabkan oleh kecelakaan di fasilitas Freeport Indonesia yang hingga saat ini beroperasi hanya sekitar 30% dari kapasitas normal.