Jakarta – Rupiah menunjukkan kinerja yang positif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Fokus pasar tertuju pada pengumuman kebijakan moneter dari Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan Bank Indonesia (BI) yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Pada Kamis (20/6/19), BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate di posisi 6%. Meski demikian, bank sentral memberikan stimulus melalui penurunan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan umum dari 6,5% menjadi 6%. Sementara itu, GWM untuk bank syariah juga diturunkan sebesar 50 basis poin menjadi 4,5% dari sebelumnya 5%.
Respons pasar terhadap kebijakan BI tersebut terlihat dari penguatan rupiah terhadap dolar AS. Rupiah berhasil menguat sebesar 1,19% ke level Rp14.150 per dolar AS, bahkan sempat mencapai Rp14.075, yang merupakan level terkuat sejak 23 April 2019.
Selain kebijakan BI, penguatan rupiah juga didukung oleh sinyal dari The Fed yang membuka peluang pemangkasan suku bunga. Pasca-pengumuman The Fed, pelaku pasar semakin yakin bahwa Ketua The Fed, Jerome Powell, akan menurunkan suku bunga dalam tahun ini. Hal ini tercermin dari perangkat FedWatch milik CME Group yang menunjukkan probabilitas 0% bagi suku bunga acuan 2,25% - 2,50% untuk tetap dipertahankan hingga akhir tahun. Sebaliknya, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali pada Juli, September, dan Desember mendatang.
Performa Rupiah Terhadap Mata Uang Utama Lain
- Dolar AS: Rupiah mencatat penguatan signifikan sebesar 1,19% sepanjang pekan ini.
- Euro: Mata uang zona euro masih menunjukkan ketahanan meski ada sinyal stimulus dari European Central Bank (ECB). Presiden ECB, Mario Draghi, menyatakan akan menggelontorkan stimulus moneter jika ekonomi zona euro memburuk dan menegaskan bahwa penurunan suku bunga menjadi salah satu opsi kebijakan. Meski demikian, euro tetap menguat 0,22% terhadap rupiah selama pekan ini.
Dengan demikian, rupiah tidak hanya menguat terhadap dolar AS, tetapi juga menunjukkan pergerakan yang menarik melawan mata uang utama lainnya, meskipun penguatan terhadap euro lebih terbatas.