Laju kenaikan harga minyak mentah dunia dalam 12 bulan terakhir atau rate of change (ROC) mencapai 91%. Angka ini mendekati ambang 100% yang secara historis kerap muncul menjelang krisis pasar besar sejak 1987, sehingga memicu kekhawatiran baru terhadap risiko resesi dan tekanan di pasar saham global.
Pendiri DataTrek Research, Nick Colas, menilai lonjakan harga minyak yang menembus 100% dalam setahun patut diwaspadai sebagai pertanda resesi. Ia merujuk pada data ekonomi, termasuk pengalaman sektor otomotif pada 1990-an, yang menunjukkan kenaikan harga energi secara berlipat dapat menjadi alarm kontraksi ekonomi.
Analisis lain yang dikutip dari Jack Prandelli menyebut pola kenaikan tahunan di atas 100% sebelumnya tercatat mendahului sejumlah episode guncangan pasar, mulai dari gelembung dotcom, krisis keuangan 2008, hingga pasar bear pada 2022.
Di pasar terbaru, harga minyak Brent dilaporkan telah melampaui USD111 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati USD112 per barel. Patokan fisik Dated Brent bahkan sempat melonjak hingga USD141 per barel, yang disebut sebagai level tertinggi sejak 2008.
Lonjakan harga minyak ini terjadi di tengah eskalasi geopolitik setelah serangan militer AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026. Perkembangan tersebut menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang berpengaruh besar terhadap arus pasokan energi global.
Akibat gangguan tersebut, Brent mencatat kenaikan bulanan 64% pada Maret. Kenaikan ini disebut sebagai rekor tertinggi dalam catatan data LSEG sejak 1988, menandai besarnya guncangan yang kini membayangi pasar energi dan sentimen ekonomi global.

