BERITA TERKINI
Ketegangan di Selat Hormuz Ganggu Rantai Pasok Global, Sejumlah Komoditas Ikut Terdampak

Ketegangan di Selat Hormuz Ganggu Rantai Pasok Global, Sejumlah Komoditas Ikut Terdampak

Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, memicu gangguan pada jalur distribusi global. Selat ini selama ini menjadi salah satu rute laut paling vital bagi perdagangan energi dan komoditas penting dunia. Ketika aktivitas pengapalan terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pada pasokan minyak dan gas, tetapi juga merembet ke sektor pangan, industri, hingga teknologi.

Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menilai situasi tersebut bukan kondisi biasa. Mengutip World Economic Forum, Birol menyebut krisis ini sebagai gangguan terbesar dalam sejarah energi global. “Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global,” ujar Birol, dikutip dari World Economic Forum, Minggu (05/04/2026).

Di luar komoditas energi, sejumlah barang lain ikut terdampak akibat terganggunya distribusi dan meningkatnya risiko pengiriman. Berikut beberapa komoditas yang disebut turut mengalami tekanan:

1. Pupuk (urea dan amonia)
Kawasan Teluk Arab merupakan salah satu pemasok utama pupuk dunia, terutama urea. Gangguan distribusi membuat pasokan menipis di negara-negara yang bergantung pada impor seperti India, Brasil, dan China. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global.

2. Sulfur
Sulfur yang banyak dihasilkan dari kilang minyak ikut terdampak ketika operasional kilang terhenti. Padahal, sulfur dibutuhkan untuk produksi pupuk dan sejumlah proses industri, termasuk pemurnian logam untuk baterai kendaraan listrik.

3. Metanol
Sekitar sepertiga perdagangan metanol dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan pasokan dapat menekan industri kimia global, termasuk sektor plastik dan cat, melalui peningkatan biaya.

4. Bahan baku grafit
Grafit sintetis yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik bergantung pada turunan minyak. Ketika aktivitas kilang terganggu, pasokan grafit ikut tertekan dan berimbas pada biaya produksi baterai.

5. Aluminium
Timur Tengah menjadi salah satu produsen aluminium terbesar di luar China. Gangguan distribusi dapat memicu kenaikan harga sekaligus membatasi pasokan di pasar global.

6. Helium
Qatar memasok hampir sepertiga kebutuhan helium dunia. Gas ini penting untuk mesin MRI dan industri semikonduktor. Jika distribusi tersendat, dampaknya dapat menghambat layanan kesehatan hingga produksi teknologi tinggi.

7. Monoetilen glikol (MEG)
MEG merupakan bahan baku utama poliester dan banyak dipasok dari kawasan Teluk. Ketika pasokan terganggu, negara-negara Asia disebut harus mencari alternatif dengan biaya lebih mahal, yang berpotensi memengaruhi harga produk akhir.

8. Bijih besi dan bahan baku baja
Ketegangan kawasan membuat sejumlah kapal menghindari jalur yang dinilai berisiko. Akibatnya, distribusi bahan baku baja dapat terganggu dan biaya logistik meningkat, sehingga menekan industri baja global.

9. Proyek hidrogen hijau
Timur Tengah sebelumnya diproyeksikan menjadi pusat pengembangan hidrogen hijau dunia. Namun, konflik dan ketidakpastian geopolitik dinilai menghambat realisasi proyek-proyek tersebut.

Krisis di Selat Hormuz memperlihatkan rapuhnya rantai pasok global yang bergantung pada satu kawasan strategis. Dalam Laporan Risiko Global 2026, World Economic Forum juga menyoroti meningkatnya risiko konflik geoekonomi yang dapat memengaruhi stabilitas dunia. Ketahanan akses terhadap bahan baku pun disebut menjadi isu strategis yang berkaitan dengan keamanan nasional.

Jika situasi berlanjut, dunia tidak hanya berhadapan dengan lonjakan harga energi, tetapi juga risiko krisis komoditas yang lebih luas dan kompleks.