Ketegangan di Selat Hormuz dalam sebulan terakhir dinilai tidak lagi semata menjadi isu regional, melainkan telah memunculkan kecemasan di tingkat global. Peningkatan kehadiran militer, insiden yang melibatkan kapal tanker, serta retorika keras antarnegara disebut menjadi indikator rapuhnya situasi di kawasan tersebut.
Setiap eskalasi di jalur strategis ini berdampak langsung pada pasar energi. Perkembangan situasi kerap memicu volatilitas harga minyak dan menambah risiko terhadap stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz selama ini dipandang sebagai urat nadi energi dunia. Sekitar 20% pasokan minyak global—sekitar 17 hingga 20 juta barel per hari—melintas melalui jalur ini. Selain itu, hampir sepertiga perdagangan LNG global juga bergantung pada stabilitas selat yang sempit tersebut.
Dengan peran sebesar itu, gangguan di Selat Hormuz dipandang bukan hanya persoalan kawasan, melainkan berpotensi menimbulkan guncangan sistemik bagi perekonomian dunia yang masih bertumpu pada energi fosil.

