BERITA TERKINI
Konflik di Iran Guncang Rute Udara, Maskapai Barat Berebut Pangsa Pasar

Konflik di Iran Guncang Rute Udara, Maskapai Barat Berebut Pangsa Pasar

Konflik yang meletus di Iran memicu perubahan cepat pada peta penerbangan global, setelah sejumlah negara menutup wilayah udaranya dan mengganggu jaringan penerbangan di kawasan Timur Tengah. Dampaknya terasa pada rute jarak jauh yang selama ini mengandalkan jalur lintas kawasan tersebut.

Selama bertahun-tahun, maskapai seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways memanfaatkan posisi geografisnya untuk menjadi penghubung utama antara Eropa, Afrika, dan Asia. Namun ketika konflik mengganggu lalu lintas udara jarak jauh di Timur Tengah, maskapai penerbangan Barat bergerak cepat untuk mengisi celah pangsa pasar yang muncul.

Pada Maret 2026, maskapai besar termasuk Deutsche Lufthansa AG, British Airways, dan Air France-KLM mengerahkan pesawat tambahan ke pasar-pasar utama Asia seperti India, Thailand, dan Singapura. Meski demikian, data Flightradar24 menunjukkan pertumbuhan pangsa pasar masih tergolong moderat, dan menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan menjadi tantangan tersendiri.

Bagi maskapai Eropa, tekanan terbesar datang dari lonjakan biaya bahan bakar akibat volatilitas di pasar energi. Mereka menghadapi dilema antara menaikkan tarif demi melindungi margin keuntungan atau menanggung kenaikan biaya untuk menarik pelanggan baru.

Lebih dari sebulan setelah konflik pecah, peningkatan kapasitas angkutan paling signifikan justru terjadi di pasar Amerika Serikat. United Airlines dan Delta Air Lines memperluas penerbangan jarak jauh dengan pesawat berbadan lebar, masing-masing naik 11% dan 12%.

Selain menambah frekuensi ke tujuan-tujuan Eropa yang sudah ada, maskapai AS juga membuka rute baru yang menyasar wisatawan berdaya beli tinggi. Walau rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar karena tidak memiliki praktik lindung nilai seperti sebagian pesaingnya, maskapai AS mendapat keuntungan dari lonjakan permintaan penumpang yang dipicu kekhawatiran meningkatnya biaya transportasi.

Di Eropa, Turkish Airlines disebut menjadi salah satu dari sedikit maskapai Barat yang berhasil merebut pangsa pasar, sementara Qatar Airways mengalami kerugian terbesar. Lufthansa mencatat peningkatan permintaan dalam jangka pendek dan menyatakan ambisi untuk menjadikan pergeseran rute ini sebagai strategi jangka panjang.

Kerumitan jaringan penerbangan Asia–Eropa sebenarnya sudah terjadi sejak 2022, ketika larangan penerbangan di atas wilayah udara Rusia diberlakukan terkait konflik di Ukraina. Perang yang berlangsung di Iran memperburuk situasi. Penutupan wilayah udara Iran dan Irak memaksa pesawat melewati koridor sempit di atas Georgia, Azerbaijan, dan wilayah Asia Tengah.

Analis Bloomberg Intelligence, Conroy Gaynor, menilai tantangan terbesar maskapai Eropa pada rute ke Asia adalah keterbatasan akses wilayah udara serta persaingan dari maskapai Asia, yang dinilai masih memiliki keunggulan karena dapat melintasi wilayah udara Rusia.