Konflik geopolitik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran disebut memicu lonjakan harga produk berbahan plastik di Indonesia sejak April 2026. Dampaknya turut dirasakan pedagang di Pasar Surade, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang melaporkan kenaikan harga berbagai kebutuhan kemasan dan perlengkapan dagang.
Sejumlah pedagang menyebut kenaikan terjadi bertahap, dengan besaran mencapai 30 hingga 70 persen. Produk yang terdampak antara lain tali rafia, kantong plastik, pipiti atau besek, cangkir plastik, hingga plastik es.
Acil (30), pemilik toko sembako di Pasar Surade, mengatakan hampir semua barang berbahan plastik mengalami kenaikan sejak konflik memanas. Ia mencontohkan tali rafia yang kembali naik Rp1.000 pada hari yang sama saat ia menyampaikan keterangan. Sementara itu, harga kantong plastik disebut meningkat hampir dua kali lipat.
“Kantong plastik juga hampir dua kali lipat. Yang biasanya Rp10.000-an sekarang sudah Rp15.000 sampai Rp17.000,” ujarnya.
Dampak serupa dirasakan Eful (34), pedagang daging ayam potong di pasar yang sama. Ia menyebut plastik merupakan kebutuhan utama untuk membungkus dagangan. Untuk menghemat biaya, ia mengurangi penggunaan plastik yang sebelumnya biasa dipakai dua lapis.
“Biasanya pakai dua lapis, sekarang paling satu untuk menghemat,” kata Eful. Ia menambahkan, kenaikan harga bahan pendukung dagangan, ditambah harga sembako yang tidak stabil, membuat pedagang semakin tertekan dan daya beli warga menurun.
Pian (35), pedagang sembako lainnya, juga membenarkan adanya lonjakan harga, termasuk pada kemasan tradisional seperti besek atau pipiti. Menurutnya, harga besek per 100 biji yang sebelumnya berada di kisaran Rp31 ribu hingga Rp35 ribu, kini mencapai Rp40 ribu, atau naik sekitar 50 persen.
Para pedagang berharap kondisi segera membaik agar harga kembali stabil dan tidak semakin membebani pelaku usaha kecil di pasar tradisional.

