BERITA TERKINI
Krisis Energi Global Tekan Industri Manufaktur Indonesia, Pemerintah Diminta Siapkan Langkah Mitigasi

Krisis Energi Global Tekan Industri Manufaktur Indonesia, Pemerintah Diminta Siapkan Langkah Mitigasi

Krisis energi global mulai berdampak pada sektor industri di Indonesia dan dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi serta daya saing manufaktur nasional. Pelaku usaha dan ekonom memperingatkan, kelangkaan pasokan energi internasional dapat memicu efek berantai yang menekan kinerja industri dalam beberapa bulan mendatang.

Lonjakan harga energi global diperkirakan dapat meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Kondisi tersebut berisiko mengurangi margin keuntungan perusahaan dan melemahkan posisi ekspor Indonesia di pasar internasional.

Sejumlah analisis dari lembaga riset ekonomi independen menempatkan industri tekstil, otomotif, elektronik, serta pengolahan hasil pertanian sebagai sektor yang paling rentan terhadap guncangan energi. Tingginya ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dan listrik membuat sektor-sektor ini sensitif terhadap fluktuasi harga energi di pasar global.

Tekanan ini dinilai dapat berdampak luas mengingat industri manufaktur disebut mencakup lebih dari lima juta pekerja di Indonesia. Dalam data yang dikemukakan, setiap kenaikan harga energi sebesar 10% berpotensi menurunkan output industri sekitar 3% hingga 5%, bergantung pada intensitas energi di masing-masing subsektor.

Untuk meredam risiko tersebut, pemerintah didorong menyiapkan strategi jangka pendek dan panjang. Salah satu langkah yang disarankan adalah meningkatkan kapasitas produksi energi terbarukan melalui pembangunan infrastruktur panel surya, turbin angin, serta pembangkit listrik tenaga air skala menengah.

Selain itu, pemerintah juga diminta menyiapkan skema subsidi tertarget bagi industri yang paling rentan dengan mekanisme yang jelas dan transparan agar tidak menimbulkan moral hazard. Langkah lain yang diusulkan adalah mempercepat diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan pada negara atau kawasan yang juga tengah menghadapi krisis energi.

Di sisi peningkatan daya tahan industri, program pelatihan dan inovasi untuk efisiensi energi juga dipandang perlu diprioritaskan melalui kolaborasi dengan universitas dan lembaga penelitian. Upaya ini ditujukan untuk menekan konsumsi energi tanpa mengorbankan produktivitas.

Dunia usaha turut diminta mengambil peran dalam mitigasi krisis. Asosiasi industri dan perusahaan multinasional yang beroperasi di Indonesia disarankan membentuk satuan tugas khusus untuk mengidentifikasi peluang penghematan energi dan substitusi teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Pemerintah daerah juga dinilai memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan kebijakan nasional melalui regulasi lokal yang mendorong transisi energi berkelanjutan. Dengan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku industri, Indonesia dinilai memiliki peluang tidak hanya bertahan menghadapi krisis energi global, tetapi juga menjadikannya momentum transformasi menuju industri yang lebih berkelanjutan dan tangguh dalam jangka panjang.