BERITA TERKINI
Krisis Selat Hormuz Guncang Keamanan Energi Global, Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS per Barel

Krisis Selat Hormuz Guncang Keamanan Energi Global, Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS per Barel

Eskalasi konflik Israel yang didukung Amerika Serikat melawan Iran sejak akhir Februari 2026 mengguncang keamanan energi global. Dampak paling besar muncul setelah terjadi penutupan de facto Selat Hormuz, jalur sempit yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan LNG dunia.

Penutupan ini memicu krisis distribusi energi terbesar sejak dekade 1970-an. Lalu lintas tanker minyak dilaporkan merosot hingga 95 persen, memunculkan ketidakpastian pasokan dan mendorong lonjakan harga bahan bakar hingga menembus level di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Gangguan distribusi tersebut berdampak luas pada perekonomian. Krisis meningkatkan tekanan inflasi, menekan daya beli, dan memperburuk defisit fiskal, terutama di negara-negara importir energi. Pada saat yang sama, rantai pasok terhambat, biaya logistik meningkat, dan volatilitas pasar keuangan ikut naik, sehingga mengancam stabilitas makroekonomi global serta menekan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.

Situasi ini mempertegas pergeseran posisi energi dalam hubungan internasional: bukan lagi semata komoditas ekonomi, melainkan instrumen geopolitik strategis. Dalam konteks Selat Hormuz, Iran disebut mengontrol lalu lintas pelayaran layaknya “pos tol” dengan mengenakan tarif transit hingga 2 juta dolar Amerika Serikat per kapal.

Negara-negara yang disebut sebagai sahabat Iran, seperti China, India, dan Rusia, diizinkan melintas. Sementara armada dari negara lain terpaksa menunggu atau mencari rute alternatif yang lebih panjang. Kondisi ini menegaskan bahwa akses terhadap titik rawan energi semakin dipengaruhi oleh orientasi politik, dan Selat Hormuz menjadi alat tawar-menawar, sejalan dengan pandangan bahwa “strategic chokepoints are no longer neutral spaces”.

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global, perhatian pada strategi ketahanan energi kembali menguat. Pada akhir 2025, sebuah artikel IEA berjudul As risks multiply in a world thirsty for energy, diversification and cooperation are more urgent than ever menilai risiko keamanan energi kian kompleks dan meluas, tidak hanya terkait minyak dan gas, tetapi juga listrik, energi bersih, serta rantai pasok teknologi energi.

Dalam konteks tersebut, IEA menekankan dua strategi utama: diversifikasi sumber pasokan energi dan penguatan kerja sama internasional. Diversifikasi dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber atau wilayah tertentu, sedangkan kolaborasi global dipandang menjadi kunci untuk mengelola ketidakpastian, menjaga stabilitas pasar, dan memperkuat ketahanan sistem energi.

Sebagai langkah mitigasi untuk mengamankan pasokan, negara-negara anggota IEA sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan darurat. Kebijakan itu disebut sebagai pelepasan stok terbesar sepanjang sejarah.