Nvidia Corp. disebut terjebak dalam sengketa perdagangan yang kian memanas antara Amerika Serikat dan China selama tiga tahun terakhir. Situasi ini menghambat chip kecerdasan buatan (AI) andalan perusahaan itu masuk ke pasar yang dinilai krusial, serta berdampak pada hilangnya pendapatan hingga miliaran dolar.
Perkembangan terbaru muncul pada pekan yang sama ketika Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk menandatangani kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Pada waktu yang berdekatan, Nvidia akan menggelar salah satu konferensi AI terbesar di sebuah gedung yang berjarak hanya beberapa blok dari Gedung Putih, menandai meningkatnya pertaruhan bagi perusahaan tersebut di Washington.
Konferensi yang dikenal sebagai GPU Technology Conference selama ini menjadi ajang penting bagi industri AI yang sedang berkembang pesat, dengan ribuan pengembang perangkat lunak dan perangkat keras sebagai peserta utama. Namun, kali ini ada audiens lain yang juga menjadi perhatian Nvidia, yakni para pembuat kebijakan di ibu kota AS yang berpengaruh terhadap ruang gerak bisnis produsen chip itu.
CEO Nvidia Jensen Huang dijadwalkan menyampaikan paparan yang dinantikan untuk pertama kalinya di Washington pada Selasa pukul 12 siang. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, Huang kerap menyoroti produk baru dan visinya untuk mengintegrasikan AI ke kehidupan sehari-hari melalui robotika, otomatisasi bisnis, dan kendaraan otonom.
Di luar panggung, Huang disebut aktif mendorong perubahan kebijakan AS, terutama terkait kendali ekspor. Kebijakan tersebut secara efektif membatasi Nvidia untuk menjual chip paling canggihnya ke China, yang merupakan pasar semikonduktor terbesar di dunia.

