BERITA TERKINI
Pakar Keuangan Beri Panduan Investasi di Tengah Gejolak Global: Jangan Panik, Kenali Profil, dan Kelola Risiko

Pakar Keuangan Beri Panduan Investasi di Tengah Gejolak Global: Jangan Panik, Kenali Profil, dan Kelola Risiko

Dua pakar keuangan membagikan panduan praktis bagi masyarakat dalam merencanakan investasi di tengah gejolak ekonomi global yang dipicu konflik Timur Tengah. Pembahasan tersebut disampaikan dalam dialog Ekonomi Digital RRI Pro 1 Makassar pada Sabtu, 4 April 2026.

Senior Lecturer The Indonesia Capital Market Institute, Adrian Sayed, dan Dr. (Cand.) Ria Andriany selaku Pemimpin Departemen Corporate Banking dan Bisnis PT Bank Sulselbar, menekankan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan adalah tidak panik. Keduanya juga mengingatkan pentingnya memahami kondisi keuangan pribadi sebelum memilih instrumen investasi apa pun.

Ria Andriany menyatakan, ketidakpastian global tidak semestinya membuat masyarakat mengambil keputusan keuangan secara terburu-buru. Ia menekankan pentingnya mengenali money personality atau tipe kepribadian keuangan sebagai dasar menyusun perencanaan keuangan yang tepat.

Menurut Ria, tipe kepribadian keuangan terbagi menjadi empat kategori, yakni money avoiders, money vigilance, money status, dan money focus. Pengenalan tipe ini dinilai membantu masyarakat merancang perencanaan keuangan, mulai dari mengelola arus kas hingga menentukan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko.

Ia juga menyebut tiga prinsip utama yang perlu dipegang dalam berinvestasi, yaitu diversifikasi aset, orientasi jangka panjang, dan manajemen risiko yang disiplin. Bagi masyarakat yang belum memahami pasar modal, Ria menyarankan langkah sederhana dengan mengelola arus kas melalui beberapa rekening terpisah sesuai pos pengeluaran.

Sementara itu, Adrian Sayed memaparkan tiga pilihan instrumen yang dinilai relevan dalam situasi saat ini. Pertama, logam mulia, terutama emas kepingan tiga hingga lima gram. Ia menyebut harga emas tengah terkoreksi, namun diyakini berpotensi naik kembali seiring meredanya konflik Teluk.

Kedua, Adrian menilai saham blue chip perbankan menjadi opsi lain karena saat ini diperdagangkan dengan diskon besar. Ia menekankan pendekatan membeli perusahaan yang dinilai sehat pada harga murah, kemudian menyimpannya untuk jangka panjang sekaligus menikmati dividen.

Ketiga, Adrian menyarankan Surat Berharga Negara (SBN) yang disebut menawarkan kupon 5,5 persen dan dinilai masih lebih menarik dibandingkan deposito perbankan.

Meski demikian, keduanya menilai pilihan terbaik bagi masyarakat yang masih ragu terhadap kondisi pasar adalah menahan posisi dalam bentuk kas terlebih dahulu sembari memantau perkembangan ekonomi global. Adrian juga mengingatkan, bila belum yakin, masyarakat disarankan tidak memaksakan diri untuk berinvestasi dan menunggu tanda-tanda pemulihan.

Selain membahas strategi investasi, kedua narasumber mengingatkan masyarakat agar menjauh dari judi daring yang kerap disamarkan sebagai investasi. Aktivitas tersebut dinilai tidak menghasilkan aset nyata, berisiko merusak kebiasaan keuangan, dan dapat berdampak negatif bagi keluarga.