PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-14 perusahaan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. “Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan baik,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Rahmad menambahkan, setelah kebutuhan domestik terpenuhi, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk berkontribusi pada stabilitas pasokan pupuk global. Ia menyebut terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung keseimbangan pasar global.
Menurut Rahmad, posisi Indonesia sebagai salah satu produsen urea dunia tidak terlepas dari transformasi yang dijalankan secara konsisten untuk memperkuat fondasi industri pupuk nasional. Pupuk Indonesia mencatat kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton. Dengan kapasitas tersebut, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan rantai pasok global, termasuk akibat ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan yang berdampak pada jalur distribusi pupuk dunia.
Sejalan dengan tema HUT ke-14 “Transform, Sustain, Empower”, perusahaan menyatakan terus melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari kebijakan subsidi, tata kelola distribusi, hingga penguatan struktur pembiayaan. Upaya ini didukung kebijakan pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang disempurnakan dengan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, yang mendorong sistem distribusi lebih efektif serta skema pembiayaan yang lebih adaptif.
Rahmad juga menyoroti perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism atau marked-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran subsidi sebagian di muka. Menurutnya, langkah tersebut memberikan fleksibilitas finansial yang lebih kuat bagi perusahaan.
“Revitalisasi menjadi kunci untuk memastikan industri pupuk nasional tetap andal dan berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik,” kata Rahmad.
Transformasi tersebut, menurut perusahaan, turut berdampak pada sektor pertanian. Di antaranya penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat waktu sejak awal tahun selama dua tahun berturut-turut, serta penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20 persen pada 2025. Selain itu, penyerapan pupuk bersubsidi meningkat 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Komisaris Utama Pupuk Indonesia Sudaryono mengatakan penguatan industri pupuk nasional menempatkan Indonesia pada posisi strategis di tengah gangguan rantai pasok global. “Porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia,” ujar Sudaryono.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tanggung jawab bagi Indonesia untuk turut menjaga keseimbangan pasokan pupuk global. Ke depan, Pupuk Indonesia menyatakan akan terus memastikan ketersediaan pupuk yang terjangkau dan mudah diakses petani, sekaligus memperkuat industri yang efisien dan berkelanjutan.

