Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Senin. Namun, pelemahan tersebut diperkirakan bersifat sementara karena rupiah dinilai masih berpeluang menguat didukung sentimen eksternal.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai rupiah berpotensi menguat seiring optimisme pasar terhadap perundingan perdagangan antara China dan AS. Ia menyebut pihak AS menyampaikan bahwa telah disepakati kerangka dasar untuk pembahasan.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa sejumlah informasi, termasuk konfirmasi rencana pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump, sejauh ini hanya disampaikan oleh pihak AS dan belum dikonfirmasi oleh China. Menurutnya, investor juga tetap waspada terhadap kemungkinan gagalnya kesepakatan.
Dalam laporan yang beredar, Donald Trump memperkirakan pertemuan dengan Xi Jinping akan berjalan sangat baik. Kedua negara disebut akan membahas isu perdagangan dan tarif, serta persoalan terkait Taiwan.
Sentimen lain yang dinilai dapat menopang rupiah berasal dari data inflasi AS yang menunjukkan moderasi, sehingga meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Inflasi AS pada September tercatat naik 0,3 persen, lebih rendah dari perkiraan sekitar 0,4 persen.
Inflasi inti juga dilaporkan naik 0,2 persen, di bawah perkiraan 0,3 persen. Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi inti turun ke 3 persen dari perkiraan bertahan di 3,1 persen.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp16.550 hingga Rp16.650 per dolar AS.

