Nilai tukar rupiah diprediksi berpotensi melemah hingga menembus level Rp17.100. Tekanan terhadap rupiah muncul di tengah kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga energi yang turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang.
Kondisi tersebut dinilai menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Penguatan dolar AS cenderung mendorong arus dana bergerak ke aset berdenominasi dolar, sementara kenaikan harga energi meningkatkan tekanan biaya bagi negara-negara yang terdampak oleh mahalnya komoditas energi.
Selain itu, dinamika konflik global turut memperkuat ketidakpastian di pasar keuangan. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar umumnya lebih berhati-hati, sehingga mata uang negara berkembang rentan mengalami tekanan.

