Sejumlah negara Asia memilih menempuh jalur diplomasi untuk menjaga kelancaran pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan akan meluluhlantakkan Iran jika tidak segera membuka selat tersebut.
Beberapa negara besar di Asia dilaporkan telah mengantongi kesepakatan dengan Teheran agar kapal-kapal mereka tetap dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Langkah ini ditempuh karena banyak negara Asia sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Jalur ini menjadi titik konflik setelah Teheran, sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel, mengancam akan menyerang kapal-kapal yang melintas di selat tersebut.
Dalam beberapa minggu terakhir, Pakistan, India, dan Filipina disebut telah membuat kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan sejumlah kapal mereka melintasi selat itu dengan aman. China juga mengakui kapal-kapalnya telah menggunakan rute tersebut.
Meski demikian, cakupan dan durasi jaminan keamanan dari Iran masih menyisakan pertanyaan. “Kami masih belum tahu apakah jaminan tersebut hanya berlaku untuk beberapa kapal atau semua kapal yang berbendera negara tertentu,” kata Dimitris Maniatis dari perusahaan konsultan perkapalan Marisks, dikutip dari BBC.
Namun, bagi negara-negara yang bergantung pada energi dari Teluk, komunikasi dengan Iran dinilai menjadi kebutuhan agar pengiriman dapat terus berjalan.
Filipina menjadi negara terbaru yang mencapai kesepakatan dengan Iran. Pejabat Iran disebut menjamin jalur pelayaran yang aman, tanpa hambatan, dan cepat bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui Selat Hormuz.
Sekretaris luar negeri Filipina Theresa Lazaro mengatakan kesepakatan itu penting untuk membantu memastikan pasokan energi dan pupuk. Filipina mengimpor 98 persen minyaknya dari Timur Tengah dan menjadi negara pertama yang mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional. Di saat yang sama, harga bensin di Filipina dilaporkan naik lebih dari dua kali lipat setelah dimulainya perang Iran.
Masih terdapat ketidakpastian terkait klaim Teheran bahwa selat terbuka untuk semua negara kecuali AS dan sekutunya. Filipina yang kerap dipandang sebagai sekutu AS menjadi contoh yang dinilai dapat menunjukkan bahwa Iran bersedia membedakan persoalan aliansi dengan keterlibatan langsung dalam konflik.
“Iran tampaknya membedakan antara aliansi suatu negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik,” kata Roger Fouquet dari Institut Studi Energi, National University of Singapore.
Negara lain juga melaporkan hasil pembicaraan dengan Iran. Pada 28 Maret, Pakistan mengumumkan Iran setuju mengizinkan 20 kapal Pakistan melintasi Selat Hormuz.
“Ini adalah isyarat yang disambut baik dan konstruktif dari Iran dan patut diapresiasi,” kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar. Ia menambahkan, “Dialog, diplomasi, dan langkah-langkah membangun kepercayaan seperti ini adalah satu-satunya jalan ke depan.”
Iran juga secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India yang melintasi selat tersebut. Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar mengatakan kepada Financial Times pada Maret bahwa lewatnya kapal tanker India merupakan hasil diplomasi.
Sementara itu, China—yang disebut sebagai pembeli minyak Iran terbesar—pekan lalu mengonfirmasi beberapa kapalnya melintasi Selat Hormuz, meski tidak menyebut Iran maupun merinci kapal-kapal yang dimaksud.
“Setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tiga kapal China baru-baru ini melintasi Selat Hormuz. Kami menyampaikan rasa terima kasih kami kepada pihak-pihak terkait atas bantuan yang diberikan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China kepada wartawan.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa di tengah perang, jutaan barel minyak Iran yang dikenai sanksi AS tetap dikirim ke China dalam beberapa pekan terakhir.

