BERITA TERKINI
Selat Hormuz, Jalur Vital Minyak Dunia dan Kabel Internet Bawah Laut yang Rentan Gejolak

Selat Hormuz, Jalur Vital Minyak Dunia dan Kabel Internet Bawah Laut yang Rentan Gejolak

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi global. Selain menjadi jalur pelayaran distribusi minyak terpadat di dunia, kawasan ini juga dilalui jaringan kabel komunikasi bawah laut lintas benua. Karena itu, setiap gejolak di wilayah tersebut kerap memicu kekhawatiran di berbagai negara.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran dan Oman. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Dengan lebar sekitar 33 kilometer, Selat Hormuz menjadi jalur utama distribusi minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Diperkirakan sekitar 20–30 persen distribusi minyak global melintasi selat ini setiap hari. Pasokan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dari Qatar juga sangat bergantung pada kelancaran pelayaran di kawasan tersebut. Negara-negara industri seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan disebut sebagai pihak yang paling terdampak apabila terjadi gangguan.

Kerentanan Selat Hormuz tidak hanya dipicu tingginya volume distribusi energi, tetapi juga faktor geopolitik yang sensitif. Iran kerap menjadikan selat ini sebagai alat tekanan politik, termasuk dalam dinamika ketegangan dengan Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya.

Pada awal Maret 2026, Iran memblokade Selat Hormuz sebagai reaksi atas meningkatnya ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel. Situasi tersebut disebut langsung mengguncang harga minyak dunia dalam waktu singkat. Pemerintah Iran kemudian menyatakan bahwa penutupan hanya berlaku bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat, Israel, dan negara sekutunya. Meski demikian, kebijakan itu tetap memicu kekhawatiran global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Dari sisi teknis pelayaran, ruang gerak di Selat Hormuz tergolong terbatas. Kapal tanker raksasa pengangkut minyak disebut hanya memiliki ruang sekitar tiga kilometer untuk masing-masing arah pelayaran. Kondisi ini membuat jalur tersebut rentan terhadap gangguan, baik akibat konflik militer, ranjau laut, maupun insiden navigasi.

Dampaknya dapat meluas ke berbagai negara. Gangguan kecil sekalipun berpotensi memicu lonjakan harga minyak, meningkatkan biaya logistik, serta mendorong inflasi. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, efeknya dapat terasa melalui kenaikan harga energi dan tekanan terhadap ekonomi domestik.

Di balik ancaman krisis energi, terdapat risiko lain yang kerap luput dari perhatian publik, yakni keberadaan jaringan kabel serat optik bawah laut di sekitar Selat Hormuz. Lebih dari 95 persen lalu lintas data internasional disebut mengalir melalui kabel bawah laut. Di kawasan ini, terbentang sejumlah sistem penting seperti Fibre Optic Link Around the Globe (FALCON), Europe India Gateway (EIG), dan Gulf Bridge International (GBI) yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, hingga Eropa.

Kabel-kabel tersebut menopang berbagai aktivitas vital, mulai dari transaksi perbankan internasional, perdagangan global, operasional pusat data, komunikasi pemerintahan dan pertahanan, hingga infrastruktur layanan digital.

Seperti jalur minyak, jaringan kabel bawah laut juga berada pada titik yang rentan. Kedalaman Selat Hormuz yang relatif dangkal, sekitar 50 hingga 100 meter, membuat kabel mudah terdampak aktivitas manusia maupun konflik. Risiko dapat muncul dari jangkar kapal, alat tangkap ikan, hingga potensi sabotase dalam gejolak perang modern.

Dalam skenario terburuk, putusnya kabel bawah laut tidak serta-merta mematikan internet global, tetapi dapat memicu perlambatan besar-besaran. Transaksi keuangan berpotensi tertunda, sistem logistik terganggu, dan komunikasi lintas negara menjadi tidak stabil.

Bagi Indonesia, dampaknya disebut bersifat ganda. Selain berisiko terdampak lonjakan harga energi, sebagian jalur komunikasi data internasional masih bergantung pada rute Barat yang terhubung ke Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz dapat berpengaruh pada kualitas konektivitas digital nasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap Selat Hormuz tidak lagi tunggal. Dunia menghadapi dua risiko sekaligus: potensi krisis energi di permukaan dan kemungkinan gangguan digital dari dasar laut.