BERITA TERKINI
Tarif Resiprokal Trump Tekan Impor dari China, Defisit AS Bergeser ke Asia Tenggara dan Taiwan

Tarif Resiprokal Trump Tekan Impor dari China, Defisit AS Bergeser ke Asia Tenggara dan Taiwan

Satu tahun setelah kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai melihat hasil awal dari kebijakan dagang agresif yang ditempuh pemerintahannya. Pada 2024, defisit perdagangan AS untuk barang dan jasa membengkak hingga sekitar US$918,4 miliar atau setara 3,1% dari produk domestik bruto (PDB). Trump pun berjanji memangkas defisit tersebut secara signifikan.

Mulai 2 April 2025, Trump menerapkan kebijakan “tarif resiprokal” terhadap mitra dagang utama AS dengan menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA). Gedung Putih menyatakan langkah ini ditujukan untuk “memperbaiki praktik perdagangan” yang dinilai telah menggerus basis manufaktur AS.

Data perdagangan awal menunjukkan defisit perdagangan AS secara global menurun sepanjang 2025. Namun, dampaknya di Asia Timur dan Asia Tenggara tidak sepenuhnya sesuai harapan Washington. Alih-alih mengurangi ketergantungan pada kawasan tersebut, kebijakan tarif justru mendorong pergeseran dan penataan ulang rantai pasok global.

Deborah Elms, Kepala Kebijakan Perdagangan di Hinrich Foundation, Singapura, menggambarkan dinamika ini seperti menekan balon. Menurutnya, ketika permintaan tetap ada, produk akan muncul dari lokasi lain. Ia menambahkan, perdagangan berpindah ke tempat yang menawarkan peluang; polanya berubah, tetapi tidak berhenti.

China menjadi sasaran utama kebijakan tarif Trump. Setelah aksi saling balas tarif antara Washington dan Beijing, rata-rata bea masuk AS atas barang China mencapai 47,5% per November 2025, menurut Peterson Institute for International Economics. Dampaknya terlihat pada kinerja ekspor China ke AS yang turun 20% sepanjang 2025 berdasarkan data bea cukai China.

Dari sisi AS, data Biro Sensus menunjukkan impor barang dari China merosot dari US$438,7 miliar pada 2024 menjadi US$266,3 miliar pada 2025. Sejalan dengan itu, defisit perdagangan barang AS terhadap China menyusut dari US$245,5 miliar pada 2024 menjadi US$175,4 miliar pada 2025.

Namun, penurunan defisit dengan China diimbangi oleh membesarnya defisit AS dengan negara-negara Asia Tenggara. Kawasan ini merupakan bagian penting dari strategi “China Plus One” dalam rantai pasok global. Asia Tenggara sempat dikenai tarif awal antara 17% hingga 49%, sebelum dinegosiasikan ulang melalui perjanjian bilateral menjadi sekitar 19%–20% dengan pengecualian untuk sektor tertentu.

Meski tarif naik, perdagangan AS dengan sejumlah negara ASEAN justru meningkat. Defisit perdagangan AS terhadap Indonesia naik 11%, Thailand 23%, dan Filipina melonjak 38%, meski dari basis yang relatif kecil.

Perubahan paling mencolok terjadi pada Vietnam. Defisit perdagangan barang AS dengan Vietnam naik lebih dari US$20 miliar, dari US$123,4 miliar pada 2024 menjadi US$145,7 miliar pada 2025, meski Vietnam dikenai tarif 20%.

Ekonom Capital Economics, Zichun Huang, menilai sebagian pergeseran terkait praktik transshipment atau pengalihan jalur ekspor China melalui negara tetangga. Namun, ia menekankan faktor utama adalah restrukturisasi rantai pasok, di mana negara-negara ASEAN mengimpor lebih banyak mesin dan barang antara dari China untuk kemudian digunakan memproduksi barang ekspor ke AS.

Di tengah tekanan tarif AS, eksportir China juga memperluas pasar di luar Amerika. Hal ini tercermin dari surplus perdagangan global China yang mencapai rekor US$1,19 triliun pada 2025.

Gedung Putih sempat mengancam tarif 40% untuk praktik transshipment, tetapi penerapannya dinilai sulit karena rantai pasok modern melibatkan lintas batas berulang kali. Nick Marro dari Economist Intelligence Unit menyebut mendefinisikan transshipment kini menjadi sangat kompleks.

Sementara itu, Taiwan mencatat lonjakan perdagangan dengan AS, didorong oleh meningkatnya permintaan semikonduktor dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Defisit perdagangan AS dengan Taiwan melonjak lebih dari 50%, dari US$73,7 miliar pada 2024 menjadi US$111,8 miliar pada 2025. Kenaikan ini terjadi di tengah pengecualian tarif untuk chip dan produk turunannya.

Kristy Tsun-Tzu Hsu dari Chung-Hua Institution for Economic Research, Taipei, menyebut permintaan semikonduktor sangat kuat akibat boom AI dan penimbunan stok. Ia memperkirakan tren ini berlanjut hingga 2026, termasuk bagi Vietnam yang kini naik peringkat sebagai pemasok chip utama AS.

Menurut Deborah Elms, Trump kecil kemungkinan menekan Taiwan secara agresif di sektor chip. Ia menilai Trump mungkin ingin defisit menyempit, tetapi juga menyukai lonjakan pasar saham yang didorong oleh AI.

Ke depan, nasib tarif resiprokal Trump masih tidak pasti. Kebijakan ini tengah menghadapi tantangan hukum di Mahkamah Agung AS. Bahkan jika dibatalkan, proses pencabutan tarif diperkirakan akan memakan waktu lama.

Selain itu, pemilu sela AS pada November berpotensi mengurangi agresivitas kebijakan tarif seiring meningkatnya tekanan inflasi domestik. Priyanka Kishore, ekonom Asia Decoded di Singapura, mengatakan sentimen publik mulai berubah dan dukungan terhadap Trump tidak sekuat sebelumnya.

Dengan dinamika tersebut, kebijakan tarif Trump dinilai telah mengubah peta perdagangan global tanpa menghentikan arus perdagangan. Dunia usaha terus beradaptasi dengan memindahkan rantai pasok ke wilayah yang paling mampu mengisi celah permintaan global.